Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin
Rupiah Dibuka ke Rp18.056/USD
Eko Nordiansyah • 5 June 2026 09:12
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan saat dolar AS juga melemah imbas kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 4 Juni 2026, rupiah berada di level Rp18.056 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun tujuh poin atau setara 0,04 persen dari Rp18.049per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.034 per USD. Rupiah juga bergerak melemah dari Rp17.926 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah masih fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar kembali melemah. Mata uang rupiah akan bergerak di rentang Rp18.050 per USD hingga Rp18.120 per USD.Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah dipengaruhi oleh sentimen investor yang tetap berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah.
Di AS, DPR yang dipimpin Partai Republik menyetujui resolusi pada Rabu untuk mencegah Trump melanjutkan perang melawan Iran. Agar berlaku, resolusi tersebut membutuhkan persetujuan Senat dan mayoritas dua pertiga di kedua kamar untuk mengesampingkan veto Trump yang hampir pasti.
"Perhatian kini beralih ke data ekonomi AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian yang dipantau ketat pada hari Jumat. Pada Rabu, data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan perusahaan swasta AS menambah 122 ribu pekerjaan pada Mei, melebihi ekspektasi ekonom dan meningkat dari kenaikan bulan sebelumnya," urai dia.
Di sisi lain, Ibrahim menyatakan kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati level tiga persen dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadao pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti.
Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor.