Pemerintah Kaji Berbagai Faktor Pelemahan Daya Saing Industri

Ilustrasi gas bumi. Foto: dok Istimewa.

Pemerintah Kaji Berbagai Faktor Pelemahan Daya Saing Industri

Husen Miftahudin • 29 June 2026 11:02

Jakarta: Harga gas industri dinilai bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pelemahan daya saing industri nasional maupun potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah dan para pemangku kepentingan menilai perlu ada kajian menyeluruh agar solusi yang diambil lebih komprehensif dan tepat sasaran di tengah tekanan harga energi global.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan Said Iqbal mengatakan kekhawatiran sektor industri, terutama yang intensif menggunakan energi seperti gas, memang perlu menjadi perhatian. Menurut dia, kenaikan harga energi industri sulit dihindari sebagai dampak dari dinamika geopolitik global.

"Faktor lainnya adalah melemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya pembelian barang menurun, produksi ikut turun, dan penurunan produksi mengakibatkan efisiensi yang ujung-ujungnya PHK," ujar Said Iqbal dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Juni 2026.

Selain itu, ia menyebut fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menambah beban produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

"Mereka membeli bahan baku menggunakan dolar, sementara hasil produksinya dijual dalam rupiah. Ini sangat merugikan perusahaan," imbuh dia.

Said mengungkapkan pemerintah saat ini tengah membahas solusi bersama para pemangku kepentingan, khususnya untuk industri granit, keramik, dan tekstil yang belakangan meminta dukungan kebijakan khusus.

Ia juga membantah isu yang menyebut sebanyak 55 ribu pekerja terancam PHK akibat tekanan biaya produksi. "Jadi tidak benar kalau disebut 55 ribu karyawan akan kena PHK. Kalau ada perusahaan granit yang melakukan PHK, jumlahnya ratusan orang dan itu terjadi akibat dampak perang serta kenaikan harga BBM yang tinggi," tegas Said.

Said memastikan pemerintah bersama unsur buruh akan terus melakukan langkah mitigasi untuk menekan potensi PHK. "Kalau bisa PHK tidak terjadi, itu yang kami perjuangkan. Kalau pun terjadi PHK, maka hak-hak pekerja harus dibayarkan," kata dia.
 

Baca juga: PGN Pastikan Pasokan Gas Industri Aman


(Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal. Foto: Tangkapan Layar)
 

Daya saing ditentukan banyak variabel


Kajian ReforMiner Institute menunjukkan daya saing industri nasional tidak hanya bergantung pada harga gas. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menyebut sejumlah faktor lain juga berperan besar, seperti strategi industri, permintaan pasar, bahan baku, produktivitas, efisiensi, nilai tukar, teknologi, logistik, hingga akses pasar.

"Harga gas adalah salah satu komponen dalam cost competitiveness, tetapi bukan satu-satunya penentu daya saing," kata Komaidi dalam kajiannya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip ReforMiner, porsi biaya energi termasuk gas, listrik, dan pelumas dalam struktur biaya industri hanya sekitar 6,35 persen. Sebaliknya, komponen bahan baku dan bahan penolong mencapai 64,60 persen hingga 96,76 persen, bergantung pada jenis industrinya.

"Artinya, jika persoalan bahan baku, permintaan pasar, kurs, produktivitas, teknologi, dan strategi industri tidak ikut dibenahi, maka tekanan terhadap daya saing akan tetap muncul meskipun beban energi telah dimitigasi," jelas dia.

Terpisah, Kepala Pusat Energi dan Pangan Institute for Development of Economics and Finance Abra Talattov menilai kenaikan harga LNG non-subsidi yang dirasakan sebagian pelanggan industri harus dilihat secara proporsional.

Menurut dia, tekanan harga LNG tidak bisa dipisahkan dari kondisi geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi internasional.

"Kenaikan harga LNG di tingkat konsumen industri tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada tekanan besar dari pasar energi global akibat krisis geopolitik, sehingga biaya perolehan LNG di sisi hulu juga meningkat. Karena itu, isu ini perlu dilihat secara utuh dari hulu sampai hilir, bukan hanya dari sisi harga akhir yang diterima industri," ungkap Abra.

Ia menilai menjadikan gas sebagai satu-satunya penyebab tekanan industri justru dapat menutup ruang bagi solusi yang lebih menyeluruh.

(Husen Miftahudin)