Ilustrasi. Foto: dok Pertamina Patra Niaga.
APBN Masih Kuat, Airlangga: Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Andika Fauzan Azhari • 23 September 2026 17:42
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Kepastian ini didapat setelah pemerintah menilai daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memadai untuk meredam dampak gejolak harga minyak mentah di pasar global.
Menurut dia, stabilisasi harga ini diambil guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan angka inflasi nasional. Saat ini, transmisi kenaikan harga energi dunia berhasil diredam oleh buffer APBN, mengingat harga pembelian pemerintah untuk produk minyak mentah non-subsidi masih berada di kisaran USD90-an per barel, atau tetap di bawah ambang batas USD100 per barel.
"Dan alhamdulillah untuk Indonesia, transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita. Sehingga kalau harga minyak di bawah 100, sekarang harga pembelian pemerintah khusus yang non-subsidi itu di bawah USD100, sekitar USD90-an. Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM bersubsidi," ujar Airlangga dalam acara Antara Business Forum di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Airlangga memaparkan meski dinamika geopolitik global seperti konflik di Ukraina terus memicu volatilitas harga energi nasional, respons kebijakan fiskal yang terukur terbukti efektif menjaga stabilitas makroekonomi domestik.

(Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari)
APBN jadi mesin pendorong pembangunan nasional
Selain menahan tekanan harga BBM, pemanfaatan dana APBN terus diarahkan sebagai mesin pendorong utama untuk mempercepat pembangunan nasional.
Kombinasi kebijakan harga BBM yang stabil serta penjagaan inflasi terbukti menjaga kinerja ekonomi pada semester I-2026 tetap tumbuh solid di angka 5,45 persen dengan inflasi terkendali di level 3,19 persen.
"Ke depan tentu beberapa poin yang harus kita jaga adalah fungsi dari APBN atau fiskal sebagai katalis daripada pembangunan, kemudian moneter sebagai penjaga stabilitas," papar Airlangga.
Dengan terjaganya harga energi primer di tingkat konsumen, Menko Airlangga meyakini konsumsi rumah tangga akan tetap solid dan mampu menjadi pilar utama penopang target pertumbuhan ekonomi nasional.