Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Turun Lagi, Brent Masih di USD102/Barel
Eko Nordiansyah • 21 September 2026 08:25
Singapura: Harga minyak sedikit melemah dalam perdagangan Asia pada Senin, 21 September 2026, melanjutkan penurunan dari pekan lalu, saat investor berfokus pada upaya diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran. Meskipun serangan baru oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran terus menjaga ketegangan tetap tinggi.
Dikutip dari Investing, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman November turun 0,9 persen menjadi USD102,93 per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun satu persen menjadi USD99,27 per barel.
Minyak Brent sebelumnya telah mencatat penurunan mingguan pada hari Jumat karena tanda-tanda kemajuan diplomatik potensial dan upaya untuk memulihkan pasokan Arab Saudi yang sempat terganggu telah meredakan sebagian kekhawatiran pasar terkait pasokan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa ia kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York minggu ini.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Unplash)
Ketegangan akibat serangan kelompok Houthi di Timur Tengah
Setiap kemajuan menuju negosiasi dapat mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak mentah. Namun, serangan terbaru Houthi menyoroti risiko yang dihadapi infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke arah Riyadh pada hari Sabtu, yang mendorong Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk ibu kota tersebut. Serangan itu terjadi saat kelompok tersebut meningkatkan kampanyenya melawan Arab Saudi di tengah konflik AS-Iran yang lebih luas.
Ketegangan yang kembali memanas ini telah menimbulkan kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi, yang mengangkut minyak mentah dari ladang minyak di wilayah timur kerajaan menuju Laut Merah, masih terdampak oleh serangan, meskipun Riyadh telah berupaya mencari cara alternatif untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional.
Laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa Arab Saudi menawarkan kargo minyak mentah tambahan kepada kilang-kilang di Asia melalui transfer antar-kapal di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman, turut meredakan kekhawatiran akan terjadinya kekurangan pasokan dalam waktu dekat.
Sinyal-sinyal yang saling bertentangan ini membuat pasar minyak sangat sensitif terhadap perkembangan di ranah diplomatik maupun militer.