Desa Sade, dok: Instagram @rizqbot
6 Fakta Unik Desa Wisata Sade: Dari Rumah Tradisional hingga Perkawinan
Putri Purnama Sari • 27 August 2026 14:50
Jakarta: Desa Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikenal sebagai salah satu kampung adat yang masih mempertahankan berbagai tradisi masyarakat Suku Sasak.
Kawasan ini memiliki sejumlah keunikan, mulai dari rumah tradisional dengan lantai yang dirawat menggunakan kotoran kerbau hingga tradisi perkawinan yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, Desa Sade kini tengah menjadi perhatian setelah kebakaran melanda kawasan permukiman adat tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kebakaran berdampak pada 320 warga atau 120 kepala keluarga dan menyebabkan 75 unit rumah warga, 69 art shop (toko kerajinan), dan empat gazebo.
Berdasarkan taksiran sementara, total kerugian akibat musibah ini mencapai angka Rp50 miliar. Sebelum peristiwa tersebut, Desa Sade telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.
Dilansir dari lombokleisuretou, berikut sejumlah fakta unik Desa Sade yang menarik untuk diketahui.
Fakta Unik Desa Sade yang Jarang Diketahui
1. Desa Sade Merupakan Kampung Adat Suku Sasak
Desa Sade merupakan salah satu kawasan yang dihuni masyarakat Suku Sasak, kelompok masyarakat asli Pulau Lombok. Kehidupan masyarakat di kawasan ini masih lekat dengan adat dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Rumah tradisional, kerajinan, hingga berbagai kebiasaan masyarakat menjadi bagian dari identitas budaya Sade. Karena karakter tersebut, Desa Sade dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok.
2. Lantai Rumah Dirawat Menggunakan Kotoran Kerbau
Salah satu kebiasaan yang cukup unik di Desa Sade adalah penggunaan kotoran kerbau untuk merawat lantai rumah.
Kotoran kerbau digunakan sebagai bagian dari perawatan lantai berbahan tanah. Campuran tersebut dapat membuat permukaan lantai menjadi lebih padat dan keras. Dalam sejumlah sumber mengenai rumah tradisional Sasak, campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan abu jerami disebut dapat membuat lantai mengeras.
Bagi masyarakat setempat, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
3. Rumah Tradisional Memiliki Fungsi Berbeda

Rumah Desa Sade, dok: Instagram @diiyah_falisha
Rumah tradisional di kawasan Sade memiliki beberapa tipe dengan fungsi yang berbeda. Di antaranya adalah Bale Tani, Bale Kodong, dan Bale Bonter.
Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat, sedangkan Bale Kodong dikenal sebagai tempat tinggal pasangan yang baru menikah dan belum memiliki rumah sendiri. Sementara itu, Bale Bonter memiliki fungsi yang berkaitan dengan pejabat desa dan kegiatan adat masyarakat.
Keberadaan berbagai jenis bale tersebut menunjukkan bahwa rumah tradisional Sade tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga memiliki peran dalam kehidupan sosial masyarakat.
4. Rumah Sade Menggunakan Material Tradisional
Rumah tradisional Sade memiliki bentuk sederhana dengan material yang banyak berasal dari alam. Dinding rumah umumnya menggunakan anyaman bambu, sedangkan bagian atap memanfaatkan alang-alang. Lantai rumah dibuat menggunakan material berbahan tanah.
Penggunaan material tradisional tersebut menjadi salah satu ciri khas arsitektur permukiman Suku Sasak di Sade.
5. Memiliki Tradisi Perkawinan yang Khas
Desa Sade juga dikenal karena tradisi perkawinan masyarakat Suku Sasak. Salah satu tradisi yang sering menjadi perhatian adalah merariq, yaitu prosesi membawa atau "melarikan" calon pengantin perempuan sebagai bagian dari adat perkawinan Sasak.
Tradisi tersebut memiliki tata cara dan tahapan yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat setempat. Karena itu, praktiknya perlu dipahami dalam konteks adat dan budaya masyarakat Sasak, bukan sekadar dimaknai sebagai tindakan membawa seseorang secara paksa.
6. Menenun Menjadi Bagian dari Kehidupan Masyarakat
Selain rumah adat dan tradisi, Desa Sade juga dikenal dengan kerajinan tenun. Keterampilan menenun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan menjadi salah satu produk budaya yang dikenalkan kepada wisatawan.
Kain tenun tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan keterampilan tradisional masyarakat Sasak.