Sambangi Istana, Tokoh Ormas Islam Soroti Kondisi Geopolitik Dunia

Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie. Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh.

Sambangi Istana, Tokoh Ormas Islam Soroti Kondisi Geopolitik Dunia

M Ilham Ramadhan Avisena • 5 March 2026 21:08

Jakarta: Sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia memberikan perhatian serius terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia didorong untuk memainkan peran diplomatik yang lebih aktif dan konsisten dalam mengupayakan perdamaian di tengah situasi global yang kian memanas.

"Saya juga ingin menyampaikan apresiasi kemarin beliau (Presiden Prabowo) sudah statement resmi, turut belasungkawa kepada pemerintah Iran atas wafatnya The Supreme Leader, itu di atasnya presiden," ujar Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir Media Indonesia, Kamis, 5 Maret 2026.
 


Jimly menilai langkah Presiden Prabowo Subianto sangat tepat karena berlandaskan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, tanpa terpengaruh oleh tekanan politik luar negeri. Namun, ia menyarankan agar diplomasi Indonesia melangkah lebih jauh, termasuk menggunakan hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump untuk memberikan tekanan diplomatik agar Israel mengakui kemerdekaan Palestina.

"Kita sudah saatnya berperan untuk bagaimana menjembatani potensi konflik adu domba dari Israel kepada dunia islam, bangsa Arab dengan bangsa non-Arab, Turkiye, Persia atau Iran, Indonesia dan Pakistan. Mudah-mudahan bisa menyatukan dunia Islam, jangan nanti diadu domba," lanjut Jimly.

Di sisi lain, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menekankan bahwa prioritas utama dunia saat ini adalah menghentikan peperangan secepat mungkin. Menurutnya, eskalasi kekerasan yang terus berlanjut hanya akan membawa kehancuran bagi semua pihak tanpa terkecuali.


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf. Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh.

"Karena kalau tidak begitu (damai dan berhenti perang), tidak ada yang selamat. Kita harus berhenti kekerasan dengan cara apa pun," tegas Gus Yahya.

Gus Yahya juga berpendapat bahwa Indonesia harus mengoptimalkan seluruh instrumen internasional yang dimiliki, termasuk keanggotaan dalam Board of Peace (BoP). Baginya, setiap forum kerja sama harus dijadikan modal untuk menyuarakan gencatan senjata dan stabilitas keamanan global.

"Apa pun yang sudah ada di tangan itu mari kita gunakan. Kalau kita butuh menggali lubang tidak ada sekop, punyanya sendok, kita gali pakai sendok," ujar Gus Yahya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)