Privasi Anak Sangat Penting, Kenali Bahaya Fenomena Sharenting dan Pencegahannya

Ilustrasi keluarga. Foto: Pexels/Kampus Production

Privasi Anak Sangat Penting, Kenali Bahaya Fenomena Sharenting dan Pencegahannya

Muhamad Marup • 24 July 2026 17:20

Jakarta: Parenting atau pola asuh saat ini sangat erat dengan teknologi. Salah satu kebiasaan yang muncul adalah sharenting yaitu praktik orang tua membagikan konten digital mengenai anak-anak mereka di media sosial.

Sharenting merupakan gabungan dari kata share (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Sharenting merupakan aktivitas wajar jika masih dalam batas tertentu, tapi orang tua justru lupa dampak dan bahayanya sehingga memicu oversharenting.

Orang tua biasanya membagikan foto, video, cerita, atau informasi pribadi anak, bahkan sejak mereka baru lahir. Padahal tindakan tersebut bisa memicu tindak kejahatan.

Melansir kaspersky.com, berikut pengertian dan bahaya fenomena sharenting.

Bahaya Sharenting

Semakin meluasnya platform media sosial, sharenting telah menjadi hal yang sangat umum. Statistik juga menunjukkan orang tua tidak masalah membagikan foto dan video anak-anak mereka secara online.

Sharenting memang memiliki manfaat. Misalnya, orang tua seringkali membentuk komunitas secara online melalui platform media sosial untuk saling menguatkan jika ada hal-hal yang tidak diketahui.

Pembatasan Gawai bagi Generasi Alfa Tidak Cukup, Orang Tua Harus Ikut Mitigasi

Ilustrasi anak dan orang tua. Foto: Pexels/Ketut Subiyanto

Meskipun memposting foto anak-anak mungkin tampak tidak berbahaya, orang tua harus menyadari bahwa berbagi foto secara online dapat menjadi masalah. Oversharenting dapat menciptakan jejak digital bagi anak yang fotonya dibagikan secara online, yang dapat mengakibatkan berbagai masalah, misalnya seperti kehilangan privasi dan penipuan identitas atau keuangan. 

Berikut adalah beberapa bahaya sharenting yang perlu diketahui orang tua.
  1. Risiko pencurian identitas: Konten yang diunggah dimanfaatkan untuk pelaku kejahatan siber.
  2. Ketahanan konten digital: Jejak digital foto tetap ada meskipun dihapus.
  3. Kehilangan kendali atas foto: Foto yang diunggah bisa disalahgunakan oleh pihak lain.
  4. Risiko sharenting terkait predator anak: Anak bisa jadi target kekerasan seksual.
Orang tua harus memiliki inisiatif dan kepekaan lebih dari anak. Mendapat persetujuan dari anak pun masih berisiko karena anak belum memiliki kesadaran penuh mana yang baik dan buruk, terlebih bagi bayi.

Dengan demikian, penting bagi orang tua untuk mengetahui cara mencegah bahaya sharenting. Dengan demikian, meski anak mengizinkan, orang tua paham batasan dalam sharenting.

Tips Aman Sharenting

Bagi mereka yang ingin terus berbagi foto secara online dengan keluarga, ada banyak cara untuk meningkatkan keamanan foto-foto tersebut dan mengurangi risiko ‘oversharenting’. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Periksa pengaturan privasi
  2. Diskusikan masalah privasi dengan teman dan keluarga
  3. Matikan metadata dan geotagging
  4. Jangan sertakan informasi yang dapat diidentifikasi
  5. Hindari menggunakan nama asli
  6. Hindari memposting foto yang mungkin memalukan
  7. Gunakan platform yang aman
  8. Hindari menampilkan wajah anak

(Muhamad Marup)