Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi, Brent Tembus USD100/Barel
Eko Nordiansyah • 10 September 2026 08:23
Houston: Harga minyak naik pada Kamis pagi, 10 September 2026, bergerak lebih tinggi melampaui puncak harga baru-baru ini. Kenaikan ini karena aksi militer lanjutan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran lebih lanjut mengenai gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Dikutip dari Investing, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1 persen menjadi USD97,14 per barel, level tertinggi sejak akhir Juli. Kontrak berjangka minyak Brent belum memulai perdagangan setelah ditutup naik 3,9 persen di level tertinggi empat bulan sebesar USD101,75 per barel pada hari Rabu.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Konflik AS-Iran memburuk
Harga minyak melonjak setelah AS dan Iran terlibat dalam beberapa serangan terburuk terhadap kapal sejak dimulainya konflik pada Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah jeda singkat pada Agustus.Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada Rabu, sementara AS menyatakan telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
Arus lalu lintas melalui Selat Hormuz tetap berada jauh di bawah tingkat sebelum perang, membuat pasar terus waspada terhadap gangguan pasokan yang berkepanjangan akibat konflik tersebut.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi minggu ini, menambah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan.
"Serangan balasan yang terus terjadi mengindikasikan bahwa arus minyak dari Teluk Persia kemungkinan akan tetap terganggu dalam waktu dekat. Meluasnya konflik ini berisiko menyebabkan gangguan yang lebih parah terhadap pasokan minyak, yang sebelumnya sudah membuat pasar minyak kewalahan untuk melakukan penyesuaian," ungkap analis ANZ dalam sebuah catatan.
Serangan Houthi menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan Teluk yang meluas hingga ke luar wilayah Selat Hormuz, sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan, perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu pada November.
Namun, sebuah laporan dari Wall Street Journal menunjukkan para penasihat utama Trump memperingatkan konflik tersebut bisa terus berkecamuk hingga sisa masa jabatan Trump, di tengah minimnya tanda-tanda deeskalasi.