Benarkah Mikroplastik Bisa Picu Kanker Paru-Paru? Simak Kata Peneliti

Ilustrasi. Foto: Dok Kemenkes.

Benarkah Mikroplastik Bisa Picu Kanker Paru-Paru? Simak Kata Peneliti

14 September 2026 21:27

Jakarta: Sampah plastik yang mencemari sungai dan laut tidak hilang begitu saja. Seiring waktu, plastik dapat terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil yang disebut mikroplastik dan mencemari lingkungan dalam waktu lama.

Partikel tersebut dapat berpindah melalui rantai makanan ketika tertelan organisme kecil di perairan, seperti plankton. Organisme itu kemudian dimakan ikan atau hewan air lainnya sehingga mikroplastik dapat ikut berpindah dan menumpuk di dalam tubuh.

Paparan mikroplastik pada manusia juga dapat terjadi melalui makanan, penggunaan wadah plastik hingga udara yang dihirup. Sejumlah penelitian bahkan telah menemukan keberadaan partikel tersebut di dalam tubuh manusia, termasuk pada paru-paru.

Temuan terbaru kemudian melihat keberadaan mikroplastik pada paru-paru pasien kanker dan pasien yang tidak mengalami kanker. Lalu, benarkah mikroplastik dapat memicu kanker paru-paru?

Apa Itu Mikroplastik?

Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan, mikroplastik merupakan potongan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mudah menyebar dan sulit terlihat dengan mata telanjang.

Mikroplastik terbagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder. Mikroplastik primer dibuat sejak awal untuk kebutuhan produk tertentu, seperti sabun, deterjen, kosmetik dan pakaian, sedangkan mikroplastik sekunder terbentuk dari pecahan sampah plastik yang terurai di lingkungan, terutama di laut.

Di perairan, mikroplastik dapat tertelan organisme berukuran kecil seperti bakteri, amoeba dan plankton. Ketika organisme tersebut dimakan ikan atau hewan air lainnya, partikel plastik dapat ikut masuk dan terakumulasi di dalam tubuh hewan pemangsa.

Manusia kemudian dapat terpapar mikroplastik melalui makanan yang berasal dari perairan tercemar. Penggunaan garam untuk pengawetan ikan serta wadah makanan berbahan plastik juga disebut dapat menjadi salah satu sumber paparan.

Penelitian Eka Chlara Budiarti dari Ecological Observation and Wetlands Conservation menunjukkan mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui beberapa jalur. Jalur tersebut mencakup pernapasan, pencernaan serta paparan dari benda plastik yang telah mengalami pelapukan.

Mikroplastik ilustrasi. Dok Freepik.

Benarkah Mikroplastik Picu Kanker Paru-Paru?

Dilansir Oncologycentral, penelitian yang dipresentasikan dalam Kongres European Respiratory Society (ERS) di Barcelona pada 5–9 September melibatkan 100 orang yang menjalani bronkoskopi di University Hospital of Larissa, Thessaly, Yunani. Sebanyak 50 peserta kemudian didiagnosis kanker paru-paru, sementara 50 lainnya tidak mengalami kanker.

Setiap peserta memberikan sampel lung wash atau cairan pembilas paru-paru, sedangkan separuh peserta juga memberikan sampel jaringan paru-paru. Seluruh sampel diperiksa untuk mengetahui keberadaan dan jenis mikroplastik.

Peneliti menemukan 232 partikel mikroplastik dari seluruh sampel. Sebanyak 70 persen peserta memiliki mikroplastik yang terdeteksi setidaknya pada satu sampel.

Pasien kanker paru-paru lebih sering memiliki mikroplastik dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan pasien tanpa kanker. Pada sampel lung wash, mikroplastik ditemukan pada 66 persen pasien kanker dan 46 persen pasien tanpa kanker.

Perbandingan sampel juga menunjukkan mikroplastik tidak tersebar secara merata di paru-paru. Jenis yang paling banyak ditemukan yakni polypropylene dan polyethylene, yang banyak digunakan untuk kemasan, tekstil, bahan rumah tangga dan barang konsumsi.

Peneliti dari University College Dublin School of Medicine dan University of Thessaly, Dr Ilias Dimeas, mengatakan mikroplastik yang terhirup kemungkinan lebih sering ditemukan di paru-paru manusia daripada yang diperkirakan. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit.

“Mikroplastik dapat berkontribusi terhadap peradangan atau proses biologis lain yang mungkin berperan dalam penyakit seperti kanker, tetapi bisa juga paru-paru yang mengalami penyakit menahan partikel secara berbeda dibandingkan paru-paru yang sehat,” kata Dimeas dikutip dari Oncologycentral, Senin, 14 September 2026.

Menurut Dimeas, penelitian tersebut hanya menunjukkan mikroplastik lebih sering ditemukan dalam jumlah lebih banyak pada pasien kanker paru-paru. Tim peneliti kini melakukan eksperimen laboratorium untuk melihat bagaimana mikroplastik berinteraksi dengan sel paru-paru serta menganalisis sampel pasien dengan penyakit paru-paru kronis.

Profesor Barbara Hoffmann dari University of Düsseldorf dan Ketua Advocacy Council ERS mengatakan penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan masih berada pada tahap awal. Ia menilai temuan tersebut menambah bukti bahwa manusia dapat menghirup mikroplastik dan partikel tersebut dapat berada di paru-paru.

Hoffmann menyebut kanker paru-paru menjadi jenis kanker yang paling banyak terjadi di dunia sekaligus penyebab utama kematian akibat kanker, dengan sekitar 2,5 juta kasus dan 1,8 juta kematian setiap tahun. Meski begitu, merokok tetap menjadi penyebab terbesar kanker paru-paru, sementara polusi udara juga diketahui dapat memicu kanker paru-paru dan penyakit seperti asma serta chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

Temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa mikroplastik menyebabkan kanker paru-paru. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh mikroplastik terhadap peradangan, perubahan sel dan penyakit paru-paru.

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik

Meski paparan mikroplastik sulit dihindari sepenuhnya, masyarakat dapat menguranginya dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Mengutip dari Everydayhealth, salah satu penelitian menemukan mikroplastik pada 93 persen air dari lebih dari 250 botol air kemasan.

Masyarakat juga dapat mengurangi makanan dan minuman dengan kemasan plastik sekali pakai serta menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali. 

Berikut sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan:
  • Mengurangi penggunaan botol minuman plastik dan memilih wadah yang dapat digunakan berulang kali.
  • Mengurangi makanan yang dikemas menggunakan plastik, termasuk makanan takeout, dan memilih makanan yang dibuat sendiri jika memungkinkan.
  • Memilih produk dengan kemasan kertas atau produk yang tidak menggunakan kemasan plastik.
  • Membawa tas belanja, botol minum dan wadah makanan yang dapat digunakan kembali.
  • Memilih wadah makanan berbahan kaca, baja tahan karat atau material lain sebagai alternatif plastik.

(Arga Sumantri)