Ilustrasi, emas batangan. Foto: sempsajp.com
Harga Emas Dunia Melemah, Investor Menanti Risalah Rapat Fed
Husen Miftahudin • 8 July 2026 08:30
Chicago: Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat seiring sikap hati-hati investor menjelang publikasi risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Dokumen tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 8 Juli 2026, harga emas spot turun 1,0 persen menjadi USD4.124,28 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 0,8 persen menjadi USD4.136,29 per ons.
Harga emas berada di bawah tekanan setelah dolar AS menguat seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam dua pekan.
Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga berpotensi menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.
"Volatilitas valuta asing mungkin akan tetap terkendali menjelang rilis risalah FOMC besok dan mengingat kalender data AS yang agak kosong hari ini," tulis analis ING dalam catatan risetnya.
| Baca juga: Harga Emas Bervariasi, Ini Faktor Pemicunya |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Investor menunggu sinyal baru Fed
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini. Dokumen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pandangan para pejabat bank sentral terhadap prospek inflasi dan arah suku bunga.
Pada pertemuan sebelumnya, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Meski demikian, sejumlah pejabat masih membuka peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan tidak mendukung pemberian panduan ke depan (forward guidance) terkait arah suku bunga.
Meski demikian, dalam sebuah acara pada pekan lalu, ia mengakui risiko inflasi telah mereda. Pernyataan tersebut menjadi salah satu perhatian investor dalam mencermati prospek kebijakan moneter AS.