Israel Dilaporkan Rancang Rencana Serangan Baru ke Gaza

Militer Israel di Lebanon Selatan, 30 September 2024. (Atef Safadi/EPA-EFE)

Israel Dilaporkan Rancang Rencana Serangan Baru ke Gaza

Riza Aslam Khaeron • 10 February 2026 21:18

Tel Aviv: Militer Israel dilaporkan sedang merancang rencana serangan baru berskala besar ke Jalur Gaza untuk melucuti persenjataan Hamas secara paksa.

Berdasarkan laporan Times of Israel, empat bulan setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober 2025, para pejabat militer Israel kini semakin meyakini bahwa Hamas tidak akan menyerahkan senjatanya tanpa tekanan militer langsung.

Rencana serangan baru ini sedang disusun oleh Komando Selatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dan ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militer Hamas.

Seorang pejabat senior keamanan Israel menyatakan bahwa upaya perlucutan senjata hanya dapat dicapai melalui kekuatan militer dan diperkirakan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

"Setelah kami menyelesaikan misi pemulangan semua sandera, kami bertekad untuk melucuti Hamas dan melakukan demiliterisasi total terhadap Gaza," ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. Ia menambahkan bahwa jika Hamas tidak melucuti senjatanya sesuai kerangka kesepakatan, maka Israel akan membongkar seluruh kemampuan kelompok tersebut.

Serangan baru ini diperkirakan akan lebih luas dan intens dibanding operasi-operasi sebelumnya, karena tidak lagi terkendala oleh keberadaan sandera di wilayah Gaza.

IDF juga kemungkinan akan memasuki wilayah-wilayah yang belum pernah disentuh pasukan darat sebelumnya, termasuk Deir al-Balah di Gaza tengah dan wilayah pesisir selatan Mawasi.

Sementara itu, pasukan cadangan Israel terus berjaga di sepanjang Garis Kuning—batas di mana IDF mundur dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata. IDF mengklaim telah menewaskan puluhan militan Hamas yang mencoba menyusup melintasi garis tersebut sejak Oktober.

Serangan semacam itu dilaporkan terjadi hampir setiap hari.

"Siapa pun yang melintasi Garis Kuning akan langsung dilenyapkan," tegas Komandan Batalion Brigade Cadangan Alexandroni.

Dalam kunjungan ke pos militer di kawasan Shejaiya, Kota Gaza, pada Senin, 9 Februari 2026, sejumlah komandan Israel menuduh bahwa Hamas terus menguji IDF dengan mengirimkan personel bersenjata maupun warga sipil tak bersenjata untuk mengamati reaksi pasukan Israel.
 

Baca Juga:
Jerman Kecam Langkah Israel Perketat Kendali di Tepi Barat

Selain menjaga garis pertahanan, militer Israel juga melanjutkan penghancuran jaringan terowongan bawah tanah Hamas. Para tentara menggambarkan tugas ini sebagai pekerjaan yang "tak berujung".

IDF memperkirakan bahwa setidaknya 60% dari jaringan terowongan Hamas masih utuh. Namun, angka ini bisa lebih tinggi karena IDF sendiri belum mengetahui secara pasti berapa banyak jalur bawah tanah yang belum terdeteksi.

Meskipun rencana ofensif sedang disiapkan, pelaksanaannya kemungkinan tetap akan mempertimbangkan tekanan politik dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Trump sebelumnya menjadikan gencatan senjata Gaza sebagai bagian penting dari inisiatif Board of Peace, dan berpotensi menahan dukungan jika serangan skala besar kembali terjadi.

Saat sandera masih berada di Gaza, Trump sempat menyatakan akan mengizinkan Israel melanjutkan serangan jika Hamas tidak menepati perjanjian. Namun, sikap tersebut belum dikonfirmasi ulang sejak seluruh sandera dikembalikan.

Hingga saat ini, IDF masih menahan posisi di sekitar 53% wilayah Gaza, sementara sekitar dua juta warga sipil tinggal di 47% wilayah sisanya yang masih dikuasai Hamas.

Di tengah kondisi yang tidak pasti dan implementasi kesepakatan yang mandek, para pejabat Israel menilai bahwa tindakan militer menjadi satu-satunya cara yang tersisa untuk menegakkan demiliterisasi Gaza.
 

Gaza Tetap Dibom di Tengah Gencatan Senjata


Bom Israel di Khan Younis, Gaza Selatan, 31 Januari 2026. (EFE-EPA/HAITHAM IMAD)

Di lain pihak, meskipun gencatan senjata tahap kedua masih berlangsung, serangan udara Israel tetap terjadi di berbagai wilayah Gaza. Pada Sabtu, 1 Februari 2026, sedikitnya 32 warga Palestina tewas akibat serangkaian serangan udara.

Melansir BBC, salah satu serangan paling mematikan terjadi di Khan Younis, ketika helikopter Israel menghantam tenda pengungsi. Target lainnya termasuk apartemen, pos polisi, dan kamp pengungsian. Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza melaporkan lima korban tewas, yang terdiri dari tiga anak dan dua perempuan.

Militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai respons terhadap pelanggaran yang dilakukan Hamas. IDF menyatakan bahwa delapan teroris terlihat keluar dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur, dan menyebut bahwa empat komandan Hamas menjadi sasaran, bersama dengan gudang senjata dan situs peluncuran roket.

Hamas mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran yang terus berlanjut terhadap kesepakatan damai. Pemerintah Mesir dan Qatar juga mengecam keras aksi militer ini dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

Serangan kembali terjadi pada Selasa, 10 Februari 2026. Mengutip Anadolu Agency, empat warga Palestina tewas dalam serangan drone dan tembakan pasukan Israel, termasuk seorang perempuan.

Dua orang tewas saat mengendarai sepeda motor di desa al-Masdar, Gaza tengah, sementara satu perempuan tewas dalam serangan lanjutan di lokasi yang sama. Di Khan Younis, seorang warga sipil juga dilaporkan tewas oleh tembakan di kawasan al-Satar.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 581 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.550 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah ini terus bertambah seiring berlanjutnya kekerasan di tengah ketidakpastian pelaksanaan perjanjian damai.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)