Lebih dari 400 sekolah dan perguruan tinggi di Prancis tetap ditutup di tengah protes pelajar. (Anadolu Agency)
Demo Pelajar di Prancis Memanas, 400 Sekolah dan Kampus Ditutup
Willy Haryono • 3 October 2026 10:02
Paris: Lebih dari 400 sekolah dan perguruan tinggi di Prancis tetap ditutup pada Jumat, 2 Oktober 2026, di tengah berlanjutnya aksi demonstrasi pelajar terkait sejumlah persoalan pendidikan.
Mengutip Deutsche Welle, Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan kepada wartawan bahwa sebanyak 735 institusi pendidikan “terdampak” sepanjang hari Jumat. Jumlah tersebut 30 persen lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya.
Ia melaporkan tiga petugas layanan darurat terluka saat merespons aksi tersebut, turun dari 31 orang pada Kamis lalu. Geffray juga mengecam sejumlah “tindakan kekerasan ekstrem” yang terjadi dalam rangkaian aksi protes tersebut.
Diketahui protes tersebut dimulai akibat minimnya guru, kondisi gedung sekolah yang rusak, dan kurangnya fasilitas pembelajaran bermula di sejumlah lycée atau sekolah menengah atas di wilayah Paris pada bulan lalu, sebelum meluas ke berbagai wilayah Prancis pekan ini.
Sejumlah dari sekitar 400 sekolah dan perguruan tinggi yang ditutup mengalami kerusakan akibat demonstrasi. Salah satu yang terdampak paling parah adalah Lycée Mandela di Nantes, yang diperkirakan tidak dapat beroperasi hingga pertengahan Oktober setelah terjadi kebakaran di aula pintu masuk.
Klaim Gerakan telah Disusupi
Menteri Geffray mengklaim kepada sejumlah stasiun televisi pada Jumat pagi bahwa “orang-orang yang melakukan kekerasan” telah “menyusup ke kelompok pelajar” dan “menyandera gerakan” tersebut. Ia juga mengimbau para orang tua untuk mencegah anak-anak mereka mengikuti demonstrasi.“Hal terpenting saat ini adalah memastikan anak-anak kita tidak lagi berada di jalanan karena mereka berada dalam bahaya,” klaimnya.
Geffray bertemu dengan perwakilan pelajar dan serikat pekerja pada Jumat. Setelah pertemuan tersebut, para pemimpin kelompok pelajar kembali menyerukan respons “konkret” terhadap tuntutan mereka dan mengatakan demonstrasi harus terus berlanjut.
Namun, mereka juga mengimbau para demonstran untuk tidak melakukan kekerasan atau vandalisme.
Partai Kiri Dituduh jadi Dalang
Menurut Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu, badan intelijen dalam negeri Prancis mengatakan dalam rapat krisis pada Kamis bahwa aksi protes tersebut telah “dimanfaatkan oleh politisi dari partai sayap kiri La France Insoumise (LFI)." Partai tersebut membantah tuduhan itu.Pemimpin senior LFI sekaligus calon presiden dalam pemilu 2027, Jean-Luc Melenchon, memang mendukung aksi protes tersebut, tetapi menyerukan agar para pelajar menggunakan cara-cara damai.
“Pelajar, guru, dan staf pendidikan menghadapi kondisi pengabaian yang sama dan posisi serta tuntutan mereka harus dihormati,” tulisnya dalam sebuah pernyataan awal pekan ini. Ia menyerukan “perjuangan yang disiplin, tanpa kepanikan dan tanpa kejengkelan,” tuturnya. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Protes Pelajar Meluas di Prancis, PM Gelar Rapat Kabinet Krisis