Ilustrasi rupiah. Foto: Dok. MI
Akhir Pekan Pertama November 2026, Rupiah Ditutup Turun ke Rp18.089/USD
Gervin Nathaniel Purba • 6 November 2026 16:20
Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali tumbang terhadap dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 6 November 2026. Mata uang Garuda tak mampu mempertahankan keperkasaannya setelah sempat bangkit pada penutupan perdagangan kemarin.
Dikutip dari Bloomberg, rupiah bergerak turun tujuh poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.089 per USD, dibandingkan penutupan sore kemarin pada level Rp18.082 per USD.
Jika dilihat dari data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda juga tumbang terhadap USD. Rupiah turun pada level Rp18.130 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.094 per USD.
Sementara data Yahoo Finance mencatat gerak rupiah turun 54 poin atau setara 0,30 persen. Rupiah ditutup pada level Rp18.103 per USD pada sore ini.
Kepercayaan investor belum pulih
Menurut riset dari Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, melemahnya rupiah disebabkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia. Hal ini berpotensi memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.
Di sisi lain, komitmen belanja pemerintah yang besar membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit, sehingga menimbulkan perhatian investor terhadap defisit anggaran dan keberlanjutan fiskal.
(Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin)
Sebagai gambaran, hingga akhir Oktober 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) telah mencapai USD93 per barel, jauh di atas asumsi APBN. Pemerintah juga menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi, dari Rp338 triliun menjadi Rp500 triliun.
"Hal ini menjadi perhatian investor, karena dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan lainnya," ujar Ibrahim, dikutip dari keterangan tertulis.
Di sisi lain, arus keluar modal asing yang masih berlanjut menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Investor cenderung lebih berhati-hati, karena khawatir terhadap pelemahan rupiah, risiko inflasi impor, dan ketahanan fiskal pemerintah.
"Akibatnya, meskipun pertumbuhan ekonomi cukup kuat, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih sehingga rupiah masih rentan mengalami tekanan," kata dia.