Tanah longsor terjadi di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (1/11). (Foto: BPBD Kab. Badung).
Pencarian 2 Korban Longsor Glamping Pelaga Bali, Tim SAR Bagi 3 Regu
Lukman Diah Sari • 3 November 2026 15:07
Denpasar: Operasi pencarian terhadap dua wisatawan yang hilang tertimbun tanah longsor di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali, memasuki hari kedua pada Selasa, 3 November 2026. Guna memaksimalkan proses penyisiran, Tim SAR gabungan membagi kekuatan menjadi tiga regu.
Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, menjelaskan bahwa pengerahan tiga regu tersebut bertujuan untuk memperluas jangkauan evakuasi di sekitar lokasi bencana.
"Untuk pencarian di hari kedua tanah longsor di Eco Park Pelaga Glamping ini, kami tadi pagi pukul 07.00 sudah melaksanakan pengarahan semua stakeholder yang melaksanakan tugas-tugas SAR,” ucap Sidakarya di Denpasar, Selasa, 3 November 2026.

Tim SAR gabungan cari wisatawan korban tanah longsor di glamping Desa Pelaga, Denpasar, Selasa (3/11/2026). ANTARA/Ho-Basarnas Bali
Regu pertama dikerahkan untuk berfokus menyisir langsung di titik utama lokasi kejadian tanah longsor. Regu kedua bertugas menyusuri area hulu bendungan Desa Pelaga, sementara regu ketiga menyisir aliran sungai setelah bendungan hingga radius sekitar 2,5 kilometer.
Berdasarkan data dari Polsek Petang, dua korban yang tertimbun material longsor adalah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Bangkit Khoirul Mubarok serta Warga Negara Asing (WNA) asal Jerman bernama Sacha Erich Schubert. Musibah ini diduga dipicu oleh hujan deras yang mengguyur pada Minggu malam, 1 November 2026. Material longsor langsung menghantam dua kamar glamping, yang mana satu di antaranya terisi oleh kedua korban.
Dalam operasi lanjutan ini, petugas mengerahkan berbagai perlengkapan pendukung, mulai dari mesin pompa air (alkon), alat manual berupa cangkul dan sekop, hingga satu ekor anjing pelacak.
"Kendalanya di sungai tidak ada, tetapi tetap kami berupaya mengerahkan alkon, alat manual, dan juga satu anjing pelacak untuk melacak posisi titik yang kita curigai," tambah Sidakarya.
Baca Juga :
"Apabila nanti ada tanda-tanda ditemukan korban, kami akan membuka kembali pelaksanaan operasi SAR tersebut," tutup Sidakarya.