Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari. Foto: tangkapan layar YouTube OJK TV.
OJK: Pola Konsumsi Domestik Bergeser, Makin Konservatif
Andika Fauzan Azhari • 5 November 2026 16:12
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari mengatakan, permintaan domestik menunjukkan pergeseran pola konsumsi yang semakin konservatif. Selain itu, inflasi juga mengalami peningkatan, terutama didorong oleh kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil. Penjualan kendaraan bermotor juga tumbuh cukup solid, salah satunya didorong oleh penjualan mobil listrik.
"Permintaan domestik menunjukkan pergeseran pola konsumsi yang semakin konservatif, dan inflasi juga mengalami peningkatan. Pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil," ujar Friderica dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Oktober 2026, Kamis, 5 November 2026.
Friderica menambahkan, aktivitas produksi manufaktur juga menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 yang meningkat ke level 54,0 atau tertinggi sejak Maret 2024.

Konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Oktober 2026. Foto: tangkapan layar YouTube OJK TV.
Pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga positif
Friderica mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2026 masih terjaga positif di level 5,4 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Seluruh lapangan usaha juga tercatat tumbuh positif.
"Pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III-2026 masih terjaga positif di level 5,4 persen year-on-year (yoy)," tambah dia.
OJK bersama Self Regulatory Organizations (SRO), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mencermati perkembangan pasar modal domestik di tengah ketidakpastian global dan dinamika persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan dalam negeri, termasuk pascapengumaman MSCI pada Oktober lalu.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Moh. Edy Mahmud, sebelumnya mengatakan konsumsi rumah tangga masih menjadi kekuatan terbesar yang menjaga laju ekonomi pada triwulan III-2026.
"Ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 tumbuh solid sebesar 5,47 persen secara tahunan, utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga," jelas Edy pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Menurut Edy, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Komponen ini memberikan sumbangan pertumbuhan terbesar terhadap ekonomi nasional, yakni 2,62 persen. Angka tersebut juga lebih baik dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2025 yang sebesar 4,89 persen.
Kuatnya belanja masyarakat tercermin dari meningkatnya transaksi barang dan jasa melalui kanal daring. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi dan kembali bergairahnya aktivitas pariwisata turut menjaga permintaan.