Harga Minyak Dunia Melemah Usai Trump Redam Kekhawatiran soal Iran

Ilustrasi. Foto: Unsplash.

Harga Minyak Dunia Melemah Usai Trump Redam Kekhawatiran soal Iran

Husen Miftahudin • 10 October 2026 08:39

Houston: Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 10 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,3 persen menjadi USD104,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,2 persen ke posisi USD91,64 per barel.

Secara mingguan, kontrak Brent masih mencatat kenaikan tipis setelah melonjak empat persen pada perdagangan Kamis. Sebaliknya, WTI diperkirakan mengalami penurunan selama sepekan.

Harga minyak bergerak fluktuatif sepanjang pekan seiring perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Data pengiriman menunjukkan eksportir minyak sempat mencapai tingkat pengiriman sebelum perang pada bulan sebelumnya.

Meski demikian, tingginya biaya pengangkutan minyak dari kawasan tersebut dan potensi kekurangan produk olahan diperkirakan masih menjadi faktor yang menjaga harga energi tetap tinggi.

Perhatian pasar juga tertuju pada keselamatan kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebelum serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
 



(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Pernyataan Trump redakan kekhawatiran serangan ke Iran


Dalam unggahan di media sosial pada Kamis, Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu mendatang. Sebelumnya, sejumlah laporan media menyebut Pentagon mempertimbangkan kemungkinan serangan sebelum pemungutan suara pada 3 November. Kabar tersebut sempat mendorong Brent mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua pekan terakhir.

Trump juga menyebut AS tengah melakukan pembicaraan produktif dengan Teheran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan mengatakan pemerintahnya sedang meninjau proposal AS dan akan memberikan tanggapan dalam beberapa hari ke depan.

Di sisi lain, ketegangan regional turut meningkat di Yaman. Pertempuran antara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi dilaporkan semakin intensif dalam perebutan wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi regional. Kelompok Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap infrastruktur penting di Arab Saudi, salah satu eksportir minyak utama dunia. Perkembangan tersebut menambah risiko terhadap kelancaran distribusi energi melalui jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah.

Di AS, badai kuat di dekat pesisir Teluk Meksiko mendorong produsen menghentikan sebagian kegiatan produksi minyak. Berdasarkan data Administrasi Mineral Kelautan AS yang dikutip Reuters, sekitar 1,3 juta barel per hari atau 62,9 persen dari produksi di wilayah terdampak dilaporkan berhenti sementara.

Sementara itu, Tiongkok dijadwalkan kembali mengekspor bahan bakar olahan setelah jeda singkat selama libur Golden Week. Perkembangan tersebut turut memberikan tekanan terhadap harga minyak pada perdagangan Jumat.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan diplomatik AS-Iran, keamanan jalur pelayaran, serta gangguan produksi dan distribusi energi untuk menilai arah pergerakan harga minyak selanjutnya.

(Husen Miftahudin)