Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Pekan Depan Berpotensi Turun Jadi Segini
Husen Miftahudin • 9 October 2026 11:33
Jakarta: Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan pelemahan pada pekan depan setelah gagal menembus zona resistance USD93,15-USD94,72 per barel. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, penolakan harga di area tersebut membuka peluang koreksi menuju zona support USD88,61-USD86,82 per barel.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menjelaskan kegagalan WTI menembus resistance menunjukkan tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan harga. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona USD93,15-USD94,72, peluang penurunan menuju area support masih terbuka.
Secara teknikal, pergerakan WTI berpotensi membentuk pola ABC Correction, yakni pola koreksi harga setelah pergerakan sebelumnya. Dalam skenario tersebut, zona USD88,61-USD86,82 menjadi area penting untuk memantau kelanjutan tekanan jual.
"Apabila harga bergerak menuju zona tersebut, respons pasar akan menentukan apakah koreksi berlanjut atau mulai diikuti pemulihan," jelas Geraldo dalam analisis hariannya, Jumat, 9 Oktober 2026.
Menurut analisis Dupoin Futures, zona USD93,15-USD94,72 menjadi batas penting bagi skenario penurunan harga minyak WTI. Jika harga kembali menguji area tersebut tetapi gagal menembusnya, tekanan jual berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila WTI berhasil menembus resistance secara meyakinkan, proyeksi koreksi perlu dievaluasi kembali.
"Dengan demikian, pergerakan harga terhadap zona resistance tersebut menjadi salah satu indikator utama untuk menilai keberlanjutan tren WTI pada pekan depan," tutur Geraldo.
Pemulihan pasokan minyak berpotensi tekan harga
Dari sisi fundamental, prospek pemulihan pasokan minyak global berpotensi membatasi kenaikan harga. Jika distribusi energi di Timur Tengah semakin normal dan volume ekspor kembali meningkat, kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan dapat mereda.
Kondisi tersebut berpotensi menekan harga WTI, terutama jika pasar juga memperhitungkan tambahan pasokan dari produsen minyak lainnya.
Namun, risiko geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memicu lonjakan harga secara tiba-tiba. Serangan terhadap kapal tanker dan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut dapat meningkatkan kembali kekhawatiran terhadap pasokan dan memicu volatilitas harga minyak dunia.
Pada 8 Oktober 2026, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan setelah meningkatnya serangan terhadap kapal. Jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur tersebut sempat turun menjadi tujuh kapal dalam sehari, sementara arus minyak mentah melalui selat itu juga mengalami penurunan.
Meski demikian, peningkatan ekspor melalui jalur alternatif membantu mengimbangi sebagian gangguan pasokan. Perkembangan tersebut memperlihatkan adanya dua sentimen yang berlawanan di pasar minyak. Pemulihan pasokan dan normalisasi distribusi berpotensi menekan harga, sedangkan gangguan pelayaran dan eskalasi konflik dapat mendorong kenaikan.
Karena itu, arah harga WTI pada pekan depan tidak hanya dipengaruhi pola teknikal, tetapi juga perkembangan geopolitik dan arus pasokan global.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Prediksi harga minyak WTI pekan depan
Geraldo menilai pelaku pasar perlu mencermati reaksi harga terhadap zona resistance USD93,15-USD94,72 serta perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Kegagalan WTI menembus resistance tersebut dapat memperkuat peluang koreksi menuju USD88,61-USD86,82 per barel. Sebaliknya, eskalasi gangguan pasokan berpotensi menahan pelemahan atau memicu pemulihan harga.
Dengan demikian, analisis Dupoin Futures masih menunjukkan risiko penurunan harga WTI selama harga belum mampu menembus zona resistance utama.
"Target koreksi berada di USD88,61-USD86,82 per barel, dengan volatilitas yang tetap dipengaruhi ketidakpastian pasokan minyak dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah," tutup Geraldo.