Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
Cerita Transformasi Bantargebang: Dari Lahan Kosong hingga Lautan Sampah
Fachri Audhia Hafiez • 29 October 2026 17:59
Bekasi: Kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menyimpan sejarah panjang yang disaksikan langsung warganya sejak puluhan tahun lalu. Hasan, 39, menceritakan ingatan masa kecilnya saat kawasan pembuangan sampah Ibu Kota tersebut pertama kali beroperasi dan mengubah lanskap tempat tinggalnya.
“Belum ada sampah, tumpukan kayak sekarang ini belum ada. Waktu saya kecil yang buang ini baru satu doang,” ujar Hasan saat ditemui Metrotvnews.com di Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 29 Oktober 2026.
Hasan menjelaskan titik pembuangan pertama tersebut merupakan lokasi historis yang dibuka untuk menampung kiriman sampah Jakarta. Menurut dia, tata kelola kawasan tersebut sempat berganti dari pihak swasta hingga akhirnya ditangani pemerintah daerah.
“Paling lama di awal pembuangan sampah peresmian di sini, dua tumpukan sampah ini ya, kemungkinan saat itu dikelola swasta, setahu saya sempat kebakaran kemudian diambil alih oleh pemerintah daerah,” tutur Hasan.
Pengalaman bertahun-tahun hidup berdampingan dengan sampah membentuk perjalanan hidup Hasan. Dia pernah bertugas selama 18 tahun sebagai pengangkut sampah armada Pemprov DKI. Ia merasakan betul rumitnya proses pemilahan sampah secara manual di lapangan.
“Hampir 18 tahun saya kerja di sampah. Dulu di DKI. Waktu itu kan saya memang kerjanya kan di armada. Waktu itu saya sambil mengangkat sambil menyortir, dipilah yang ambil di lapangannya, ya susah,” ucap Hasan.
Perintis Komunitas Pemulung Bantar Gebang Sejahtera (KPBS), Apong, 40. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
Di sisi lain, kehidupan warga dan pemulung di kawasan TPST Bantar Gebang kini kian terimpit oleh berbagai pembatasan area. Menanggapi kondisi tersebut, perintis Komunitas Pemulung Bantar Gebang Sejahtera (KPBS), Apong, 40, mendorong Pemprov DKI Jakarta menghadirkan fasilitas pengolahan sampah berbasis pemberdayaan warga lokal.
“Bikin saja TPS 3R di wilayah sini dari Pemprov nih. Jadi berdayakan tuh pemulung,” tegas Apong.
Apong menilai skema pemilahan di tingkat lokal melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) jauh lebih efektif untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA utama. Sekaligus memberi kepastian mata pencaharian bagi pemulung.
“Jadi pemulung ada pekerjaan, TPA juga ada pengurangan, gitu. Jangan dipilah di Jakarta, kalau di Jakarta itu kurang, kurang masuk lah,” ucap Apong.
(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)