Direktur FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
FAO: Generasi Muda Kunci Transformasi Sektor Pertanian Indonesia
Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 13:07
Jakarta: Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menilai populasi generasi muda Indonesia menjadi potensi besar untuk memperkuat transformasi sektor pertanian menuju Indonesia Emas 2045.
Direktur FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal mengatakan bonus demografi merupakan modal penting bagi Indonesia untuk beralih dari negara berpendapatan menengah menjadi negara berpendapatan tinggi.
Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan upaya meningkatkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Kita memiliki peluang besar melalui bonus demografi. Populasi generasi muda Indonesia yang sangat besar merupakan sebuah keuntungan,” kata Rajendra dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, minat generasi muda terhadap pertanian saat ini justru cenderung menurun. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui kebijakan dan praktik yang dapat membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
Membuat Pertanian Lebih Menarik
Rajendra menilai salah satu faktor penting dalam menarik generasi muda adalah memastikan sektor pertanian mampu memberikan pendapatan yang layak. Sebab, menurut dia, generasi muda membutuhkan penghasilan yang dapat diperoleh secara berkelanjutan.“Sekarang kita perlu bekerja bersama. Bagaimana kita membawa generasi muda ke sektor pertanian? Bagaimana kita membuatnya lebih menarik? Bagaimana kita memastikan mereka mendapatkan harga yang adil dan bagaimana kita juga menjamin pembiayaan bagi mereka?” ujarnya.
Ia mengatakan penguatan pembiayaan tidak harus sepenuhnya bergantung pada alokasi anggaran pemerintah. Menurut Rajendra, terdapat berbagai sumber pendanaan yang dapat dibuka untuk mendukung sektor pertanian, termasuk pembiayaan inovatif dan keterlibatan sektor swasta.
“Tidak selalu pemerintah yang harus mengalokasikan sumber daya. Ada banyak pembiayaan yang tersedia, termasuk pembiayaan inovatif dan sektor swasta. Bagaimana kita dapat membuka akses terhadap pembiayaan tersebut?” katanya.
Rajendra juga menyebut pembiayaan iklim, SDG bonds, dan green bonds sebagai sejumlah instrumen yang dapat dimanfaatkan. Ia bahkan membuka kemungkinan pengembangan instrumen seperti food bonds pada masa mendatang.

2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Perkuat Inovasi dan Teknologi
Selain regenerasi petani dan pembiayaan, Rajendra menilai pemanfaatan teknologi dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian Indonesia.Ia mencontohkan Vietnam yang menurutnya telah mampu mencapai produktivitas sekitar sembilan ton per hektare, sedangkan Indonesia berada di kisaran lima ton per hektare.
Rajendra mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama South-South and Triangular Cooperation untuk mempelajari pengalaman dan teknologi pertanian dari negara berkembang lainnya.
“Kita tidak selalu harus melihat ke negara-negara Barat. Ada teknologi yang bisa dipelajari dari negara-negara lain. Tiongkok, misalnya, telah membuat kemajuan signifikan dalam pertanian dengan memanfaatkan teknologi,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengembangan pertanian tropis di Provinsi Hainan, Tiongkok, yang menurutnya memanfaatkan drone untuk mengukur kondisi tanah dan air serta mengoptimalkan penggunaan benih dan pupuk.
Teknologi tersebut, kata Rajendra, dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
“Ini adalah hal-hal yang relatif mudah dilakukan. Dalam sekitar satu dekade ke depan, saya pikir kita perlu lebih fokus pada inovasi, digitalisasi, pembiayaan, dan keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian,” pungkasnya.