Kolombia Jadi Negara Kedua yang Mengakui Klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan

Pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan tidak diakui negara mana pun kecuali Amerika Serikat. (Anadolu Agency)

Kolombia Jadi Negara Kedua yang Mengakui Klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan

Muhammad Reyhansyah • 11 August 2026 16:49

Bogota: Pemerintahan baru Kolombia mengakui klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan yang direbut dari Suriah pada 1967. 

Keputusan tersebut menjadikan Kolombia negara kedua setelah Amerika Serikat (AS) yang mengakui klaim Israel atas wilayah tersebut.

Dalam pernyataannya di media sosial X, Senin, 10 Agustus 2026, Kementerian Luar Negeri Kolombia mengumumkan keputusan itu beberapa hari setelah Abelardo de la Espriella dilantik sebagai presiden baru negara tersebut.

"Pemerintah Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas wilayah ini, serta hak negara tersebut untuk melindungi diri dari ancaman eksternal," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Kolombia, dikutip dari Asharq Al-Awsat.

Pemerintah Kolombia juga menyatakan penguasaan Israel atas Dataran Tinggi Golan merupakan bagian penting dari pertahanan nasional Israel.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang sebelumnya mengakui klaim Israel atas wilayah tersebut. Pada 1981, Israel secara sepihak menganeksasi Dataran Tinggi Golan, tetapi langkah tersebut tidak diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kembali menegaskan pada bulan lalu bahwa Dataran Tinggi Golan merupakan bagian dari wilayah Suriah dan menyebut pendudukan Israel atas wilayah tersebut "sepenuhnya tidak dapat diterima."

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyambut keputusan Kolombia dan menyebut De la Espriella sebagai "teman baik." Keduanya disebut telah menyepakati pengakuan tersebut sehari sebelum pelantikan De la Espriella.

De la Espriella, yang berasal dari kubu kanan, sebelumnya berjanji memperkuat hubungan Kolombia dengan Amerika Serikat dan Israel. Kebijakannya berbanding terbalik dengan pemerintahan pendahulunya, Gustavo Petro, yang mengkritik keras operasi militer Israel di Gaza, memutus hubungan diplomatik dengan Israel, dan menghentikan impor senjata dari negara tersebut.

De la Espriella juga berencana membuka kedutaan besar Kolombia di Yerusalem, meski status kota tersebut dan wilayah Yerusalem Timur yang diduduki Israel tidak diakui secara internasional sebagai bagian dari Israel.

Baca juga:  Pasukan PBB Singkirkan Bendera Israel di Dataran Tinggi Golan

(Willy Haryono)