Bertemu Awak Media, Kapuspen TNI Soroti Penyebaran Informasi Tak Utuh di Medsos

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Muhammad Nas dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi dan awak media di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Metrotvnews.com/Zaenal

Bertemu Awak Media, Kapuspen TNI Soroti Penyebaran Informasi Tak Utuh di Medsos

Zaenal Arifin • 9 June 2026 16:28

Jakarta: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Muhammad Nas menyoroti soal penyebaran informasi yang tidak utuh di media sosial. Kondisi ini berpotensi menggiring opini publik, menimbulkan keresahan, hingga memecah belah masyarakat.

“Yang jadi masalah menurut saya, berita yang diterima oleh masyarakat sudah sesuai apa belum? Sudah lengkap atau belum? Tepat atau tidak? Apakah ini realita atau penggiringan opini?” kata Nas di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa, 9 Juni 2026.

Hal ini disampaikan Nas dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi dan awak media di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Menurut dia, semua pihak dituntut lebih berhati-hati dalam menyikapi sebuah peristiwa di tengah derasnya arus informasi.

Dia mencontohkan polemik pembangunan fasilitas Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di dekat Sekolah Dasar (SD) Wolomoni, Nusa Tenggara Timur, yang ramai di media sosial.

Menurut dia, video tersebut tidak menampilkan peristiwa secara utuh dan ditambah  dengan narasi yang tidak tepat. Hal ini memunculkan kesan seolah-olah TNI menggusur sekolah demi pembangunan KDKMP.

“Ternyata rekan-rekan sekalian, bukan menggusur sekolah. Bukan Kopdes (KDKMP) untuk menggantikan sekolah, bukan. Kopdes itu dibangun di belakang sekolah,” ujar Nas.

Nas menjelaskan peristiwa yang sebenarnya adalah akses menuju lokasi pembangunan cukup sempit. Alat berat harus melintas di area belakang sekitar sekolah untuk melakukan proses pembangunan KDKMP. Namun, saat bermanuver, alat berat mengenai salah satu tiang di bagian pojok bangunan sekolah.

“Si petugas, Dandim dan Babinsa berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah ‘Pak Lurah, Kepala Desa. Boleh enggak ini kita geser sebentar, Pak, tiang ini?’,” ucap Nas.
 

Baca Juga: 

Kadispenad: Patroli Antisipasi Begal, TNI tak Ambil Alih Fungsi Penegakan Hukum


Nas mengatakan pihak sekolah mengizinkan petugas proyek untuk menggeser tiang tersebut. Setelah proses pembangunan selesai, tiang tersebut akan diperbaiki kembali.

Menurut Nas, penyebaran informasi yang tidak utuh dapat menimbulkan penilaian negatif terhadap pemerintah maupun aparat. Masyarakat perlu mencari fakta yang sebenarnya sebelum menyebarkan informasi.

“Kira-kira bahaya tidak? Sangat-sangat bahaya. Masyarakat kita tidak melihat, tidak mencari tahu, tidak mendalami fakta sebenarnya, tapi langsung men-judge,” kata Nas.


Ilustrasi TNI. Medcom

Di sisi lain, Nas juga merespons soal anggapan keterlibatan militer dalam sejumlah program pemerintah merupakan bentuk kembalinya dwifungsi TNI. Dia menegaskan seluruh pelibatan TNI dilakukan berdasarkan undang-undang dan kerja sama resmi dengan kementerian atau lembaga terkait.

“Saya mengimbau kepada semuanya, jangan buru-buru menyebut kehadiran kami di ruang sipil sebagai program militerisasi. Sama sekali tidak,” ujar Nas.

Menurut dia, keterlibatan TNI dalam program ketahanan pangan, penanganan bencana, penertiban kawasan hutan, hingga pembangunan infrastruktur dilakukan untuk membantu pemerintah menjawab kebutuhan masyarakat. Nas mencontohkan pendampingan TNI dalam sektor pertanian. Dia menjelaskan pendampingan dilakukan karena keterbatasan jumlah penyuluh pertanian lapangan.

Prajurit TNI juga kerap menjadi unsur pertama yang bergerak dalam penanganan bencana karena berada paling dekat dengan lokasi kejadian. Dia menegaskan tindakan TNI tersebut bukan untuk mengambil alih penanganan.

“Yang harus dilihat adalah tujuannya, dasar hukumnya ada atau tidak, dan manfaat nyatanya bagi masyarakat apa,” kata Nas.

Dia menegaskan TNI tidak anti kritik. Namun, dia berharap kritik disampaikan berbasis fakta dan dapat menjadi bahan evaluasi.

“Kami TNI tidak anti kritik. Kritik dan masukan itu perlu, tetapi alangkah lebih baik kalau ada prajurit kami yang salah, sampaikan kepada kami sehingga bisa kami evaluasi,” ujar Nas.

Nas mengajak media massa untuk terus menjaga akurasi informasi dan menyajikan pemberitaan yang utuh kepada publik. Menurut dia, media memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik, memperkuat persatuan bangsa, dan menghadirkan informasi yang mencerdaskan masyarakat.

“Dengan komunikasi yang baik dan saling memahami, saya yakin media dapat terus bersinergi dengan kami dalam menjaga kepercayaan publik dan memperkuat persatuan bangsa,” kata Nas.

(Achmad Zulfikar Fazli)