KJRI San Francisco Promosikan Budaya dan Produk Indonesia di Palace of Fine Arts

Pertunjukan pencak silat di Palace of Fine Arts, San Francisco, Amerika Serikat. (KJRI San Francisco)

KJRI San Francisco Promosikan Budaya dan Produk Indonesia di Palace of Fine Arts

Willy Haryono • 21 September 2026 07:28

San Francisco: Alunan gamelan, keanggunan Tari Pendet, atraksi pencak silat, hingga aroma kopi dan cokelat Indonesia mewarnai Palace of Fine Arts, salah satu bangunan ikonik di San Francisco, Amerika Serikat.

Lebih dari 200 tamu dari kalangan pemerintah, korps diplomatik, pelaku bisnis, akademisi, media, komunitas seni dan budaya, diaspora Indonesia, serta mitra Amerika Serikat menghadiri Promosi Terpadu Indonesia yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco pada 18 September 2026.

Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak sekadar resepsi, kegiatan itu dirancang sebagai pengalaman untuk mengenal Indonesia, mulai dari kekayaan seni dan budaya, destinasi wisata, hingga potensi ekonomi dan produk unggulan seperti kopi, kakao, cokelat, dan jamu.

Hadir sebagai tamu kehormatan Chief of Protocol for the City and County of San Francisco Penny Coulter yang menyampaikan sambutan atas nama Wali Kota San Francisco Daniel Lurie. Turut hadir Director of International Trade San Francisco Mark Chandler dan Regional Director, Office of Foreign Missions, U.S. Department of State John Choi, bersama perwakilan korps diplomatik dan berbagai mitra Indonesia di California.

Budaya sebagai Jembatan Diplomasi

Konsul Jenderal RI San Francisco Yohpy Ichsan Wardana mengatakan San Francisco memiliki posisi khusus dalam perjalanan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.

“San Francisco merupakan gerbang bersejarah AS ke kawasan Pasifik dan menjadi lokasi pembukaan kantor perwakilan pertama Indonesia di Pantai Barat AS pada September 1952. Dari sejarah panjang ini, kita ingin membangun lebih banyak kerja sama konkret, mulai dari perdagangan, teknologi dan inovasi, pendidikan, hingga budaya dan hubungan antarmasyarakat,” ujar Yohpy, dalam siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Senin, 21 September 2026.

Menurut dia, budaya dan produk Indonesia dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kemitraan yang lebih luas.

“Ketika masyarakat Amerika menikmati kopi Indonesia, mengenal gamelan, menyaksikan pencak silat, atau tertarik berkunjung ke Indonesia, di situlah hubungan antarmasyarakat tumbuh. Dari sana terbuka peluang perdagangan, investasi, pendidikan, dan kolaborasi yang lebih besar,” tambahnya.

Panggung Palace of Fine Arts malam itu menghadirkan beragam wajah Indonesia. Gamelan Sekar Jaya membawakan Tari Pendet dan gamelan Bali, sementara Sari Raras UC Berkeley menghadirkan tradisi gamelan Jawa.

Penyanyi Nova Katuuk membawakan lagu-lagu Nusantara. Sementara itu, Pencak Silat Mande Muda memperkenalkan seni bela diri tradisional Indonesia.

Kelompok-kelompok tersebut tumbuh dan berkarya di Bay Area. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa seni budaya Indonesia tidak hanya tampil sesaat di Amerika Serikat, tetapi telah memiliki komunitas yang aktif mempelajari, memainkan, dan meneruskannya lintas generasi.

Para tamu juga diajak “berkeliling Indonesia” melalui visual berbagai destinasi wisata Nusantara, dari pantai dan pegunungan hingga kekayaan budaya di berbagai daerah.

Pesan yang ingin disampaikan pun lebih luas: Indonesia bukan hanya destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga mitra untuk berdagang, berinvestasi, belajar, dan berkolaborasi.

Kopi dan Cokelat Indonesia Menembus California

Pengalaman Indonesia kemudian berlanjut ke sisi kuliner dan ekonomi. Area pameran menghadirkan kopi spesialti Nusantara, kakao dan cokelat Indonesia, serta jamu sebagai bagian dari tradisi kebugaran Indonesia.

Raphio Chocolate, Kopi Kita, dan Nusa Jamu menjadi contoh pelaku usaha dan produk yang terhubung dengan Indonesia serta membangun pasar di California melalui kualitas, cerita asal-usul produk, dan hubungan langsung dengan konsumen AS.

Potensi kerja sama tersebut ditopang hubungan ekonomi yang terus berkembang. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan California mencapai sekitar USD10,74 miliar.

Sementara itu, perdagangan Indonesia-Amerika Serikat diperkirakan mencapai USD50,7 miliar, meningkat sekitar 19,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka tersebut menunjukkan masih luasnya peluang bagi pelaku usaha kedua negara, khususnya di bidang perdagangan, ekonomi kreatif, transformasi digital, energi bersih, pendidikan, dan industri berbasis inovasi.

Palace of Fine Arts dan Jejak Indonesia

Pemilihan Palace of Fine Arts sebagai lokasi acara juga membawa simbol tersendiri. Bangunan yang didirikan untuk Panama-Pacific International Exposition 1915 itu menjadi salah satu ikon San Francisco yang merepresentasikan keterhubungan kota tersebut dengan dunia dan kawasan Pasifik.

San Francisco juga memiliki hubungan panjang dengan Indonesia. Jejak komoditas Nusantara, termasuk kopi Jawa, telah dikenal dalam sejarah perdagangan kota tersebut, jauh sebelum Indonesia membuka kantor perwakilan pertamanya di Pantai Barat Amerika Serikat pada 1952.

Promosi Terpadu Indonesia ini juga melanjutkan momentum Indonesian-American Friendship and Heritage Day yang diproklamasikan Pemerintah Kota San Francisco pada 17 Agustus 2026 dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Melalui pendekatan yang memadukan budaya, pariwisata, kuliner, dan ekonomi, KJRI San Francisco ingin membawa Indonesia semakin dekat dengan publik AS sekaligus membuka lebih banyak pintu bagi perdagangan, investasi, pendidikan, pariwisata, dan kolaborasi antara Indonesia dan California.

Dari gamelan hingga teknologi, dari kopi hingga investasi, Indonesia hadir di San Francisco bukan hanya untuk memperkenalkan kekayaan Nusantara, tetapi juga membangun kemitraan masa depan.



Baca juga: Hijau Coffee Perluas Bisnis ke Silicon Valley, Promosikan Kopi Indonesia di AS

(Willy Haryono)