Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka Perkasa di Hari Terakhir 2025
Eko Nordiansyah • 31 December 2025 09:36
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Mata uang Garuda sedikit menguat saat dolar AS cenderung bergerak datar jelang akhir tahun.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 31 Desember 2025, rupiah berada di level Rp16.739 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 32 poin atau 0,19 persen dibandingkan Rp16.771 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.778 per USD. Mata uang Garuda terpantau menguat tipis dibandingkan dengan pembukaan sebelumnya Rp16.783 per USD.
Baca Juga :
Pasar Valuta Asing Stabil, Dolar AS Turun Tipis

(Ilustrasi. Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah)
Ketidakpastian global membayangi rupiah
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Sepanjang 2025 perekonomian Indonesia berada dalam fase yang cukup menantang seiring meningkatnya tensi geopolitik, ketidakpastian global, serta dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
"Kondisi tersebut sempat menekan kepercayaan pelaku pasar dan memicu kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025," kata Ibrahim di Jakarta, dilansir Antara.
Ia menjelaskan perlambatan global terjadi di tengah penyesuaian konsumsi, moderasi kinerja ekspor, serta ketidakpastian yang masih tinggi. Bahkan, sejumlah lembaga internasional sempat memperingatkan potensi perlambatan ekonomi yang lebih dalam akibat gangguan rantai perdagangan global.
Meski demikian, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia terbukti relatif tangguh. Pertumbuhan ekonomi yang mampu bertahan di atas lima persen menunjukkan fundamental domestik masih cukup kuat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, ditambah dengan aktivitas investasi yang masih tumbuh relatif tinggi.
"Ketahanan ini turut diperkuat oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang menjaga stabilitas makroekonomi. Sekaligus menegaskan keberlanjutan pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi," ujar dia.
Investor akan mencermati risalah tersebut untuk mencari petunjuk terkait pandangan bank sentral AS terhadap inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta arah suku bunga, terutama di tengah ekspektasi potensi pelonggaran kebijakan moneter pada 2026.
"Risalah tersebut dapat mempengaruhi arah pasar jangka pendek dalam pekan yang relatif sepi data ekonomi, dengan volume perdagangan diperkirakan tetap rendah karena liburan. Pasar AS akan tutup akhir pekan ini untuk liburan Tahun Baru, yang semakin membatasi partisipasi," tambah dia.