Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.
AI Ubah Tren Beraktivitas di Ruang Digital
M Sholahadhin Azhar • 11 July 2026 10:07
Jakarta: Kehadiran artificial intelligence (AI) di ruang siber, disebut menghadirkan budaya baru. Hal itu membawa perubahan tren di ruang digital.
"Misal kaki kram, langsung buka di Meta kenapa kram, maka akan keluar dengan sendirinya. Hal yang tidak tahu, tanya kepada AI atau ChatGPT dengan cepat langsung terjawab," kata dosen Universitas Bakrie Hany Nurahmawati, dalam keterangan yang dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Perubahan tren dibahas Hany dalam Webinar Contemporary Digital Culture 2026 yang diselenggarakan Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie pada Jumat, 10 Juli 2026. Saat ini, kata Hany, ruang digital menghadapi AI dan budaya viralitas.
Hany mengatakan manusia berubah sejak adanya internet dan sosial media, ini mengubah hidup menjadi sangat kompleks. "Mengejar digital bagi anak muda itu akan terkoneksi dengan AI dan digital," kata Hany.
Hany yang memaparkan ulasan dengan judul Post Human Rituals, How AI is Reshaping Cyber Culture, Belonging, and Meaning menyinggung kalau AI sudah menjadi bagian dari masyarakat. Bukan hanya sosial media.
"Kebijakan di Prancis, dalam kuliah boleh menggunakan AI tapi tidak boleh ditempel, " kata Hany.

Diskusi mengenai AI. Foto: Istimewa.
Hany melanjutkan, saat ini CEO Robot dan AI sudah dipakai dalam acara. Termasuk, AI streamer. Bahkan, ada AI yang menjadi influencer, model, maupun selebriti.
“AI makin kesini makin merajalela dan menguasai masyarakat. Bukan hanya ranah industri film dan musik, di brand juga sudah banyak menemukan AI. Ke depan agak ngeri-ngeri sedap dengan kemajuan AI saat ini,” kata Hany.
Dosen Universitas Bakrie Bambang Sukma Wijaya, urun pandangan dalam webinar bertema Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital itu. Bambang membahas tentang mesin pencitraan bertemu mesin pengawasan dari warganet.
"Framing itu muncul bergantung pada agenda sesuai dengan kepentingan," katanya.
Pada kesempatan ini, Bambang mengajak seluruh peserta webinar memahami media sosial dan struktur informasi. Masyarakat dituntut kritis terhadap setiap informasi.
"Harus tetap hati-hati dan waspada terhadap setiap informasi di media sosial," kata Bambang.