Iran Telah Terima Respons AS atas Proposal Perdamaian 14 Poin

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. (Anadolu Agency)

Iran Telah Terima Respons AS atas Proposal Perdamaian 14 Poin

Muhammad Reyhansyah • 4 May 2026 10:18

Teheran: Iran mengaku telah menerima respons Amerika Serikat (AS) atas proposal perdamaian berisi 14 poin, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kemungkinan besar akan menolak proposal itu karena menilai Teheran “belum membayar harga yang cukup besar.”

Menurut laporan media pemerintah Iran, IRNA, Washington telah menyampaikan jawaban terhadap proposal 14 poin Iran melalui Pakistan, dan Teheran kini sedang meninjaunya.

Belum ada konfirmasi langsung dari Washington maupun Islamabad terkait penyampaian respons tersebut.

“Pada tahap ini, tidak ada soal negosiasi nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, dikutip dari Channel News Asia, Senin, 4 Mei 2026.

Pernyataan itu mengindikasikan Iran tetap berpegang pada usulan untuk menyingkirkan pembicaraan isu nuklir hingga perang berakhir dan kedua pihak sepakat mencabut blokade yang saling diberlakukan atas jalur pelayaran Teluk.

Pada Sabtu, Trump mengatakan dirinya belum meninjau redaksi pasti proposal damai Iran, tetapi kemungkinan tidak akan menerimanya.

“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya tidak bisa membayangkan itu dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulis Trump di media sosial.

Empat pekan lalu, AS dan Israel menghentikan kampanye pengeboman terhadap Iran, dan pejabat Washington serta Teheran sempat menggelar satu putaran pembicaraan. Namun, upaya mengatur pertemuan lanjutan sejauh ini belum berhasil.

Iran Tunda Isu Nuklir ke Tahap Akhir

Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa proposal terbaru yang diserahkan Teheran pada Kamis mengedepankan penghentian perang dan penyelesaian kebuntuan pelayaran terlebih dahulu, sementara pembahasan program nuklir Iran akan ditunda ke fase berikutnya.

Langkah ini berbeda dengan tuntutan berulang Washington yang meminta Iran menerima pembatasan ketat atas program nuklirnya sebelum perang dapat diakhiri.

AS ingin Teheran melepaskan stok lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi, yang menurut Washington dapat digunakan untuk membuat bom.

Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, meski bersedia membahas sejumlah pembatasan dengan imbalan pencabutan sanksi seperti dalam kesepakatan 2015 yang kemudian ditinggalkan Trump.

Media Iran menyebut proposal 14 poin Teheran mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar, pencabutan blokade, pelepasan aset beku, pembayaran kompensasi, penghapusan sanksi, penghentian perang di seluruh front termasuk Lebanon, serta pembentukan mekanisme kontrol baru untuk Selat Hormuz.

Seorang pejabat senior Iran yang enggan disebut namanya mengatakan penundaan isu nuklir ke tahap akhir dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi tercapainya kesepakatan.

“Dalam kerangka ini, negosiasi atas isu nuklir yang lebih rumit dipindahkan ke tahap final untuk menciptakan atmosfer yang lebih mendukung,” katanya.

Front Lebanon Tambah Rumit Diplomasi

Di saat yang sama, upaya damai juga dibayangi perkembangan di Lebanon.

Pada Minggu, Israel memerintahkan ribuan warga Lebanon meninggalkan desa-desa di selatan negara itu, sebuah eskalasi dalam perang paralel antara Israel dan sekutu Iran, Hizbullah.

Iran sebelumnya mengatakan pembicaraan dengan Washington tidak bisa dilanjutkan kecuali gencatan senjata juga bertahan di Lebanon.

Israel menginvasi Lebanon pada Maret untuk menyerang Hizbullah setelah kelompok itu menembakkan roket lintas perbatasan sebagai dukungan kepada Teheran.

Lebanon dan Israel memang sempat menyepakati gencatan senjata terpisah bulan lalu, tetapi bentrokan masih terus berlangsung dalam skala lebih kecil.

Militer Israel pada Minggu mengeluarkan peringatan mendesak kepada warga di 11 kota dan desa di Lebanon selatan agar meninggalkan rumah mereka dan bergerak setidaknya 1.000 meter ke area terbuka.

Militer mengatakan operasi dilakukan terhadap Hizbullah setelah apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata, sembari memperingatkan siapa pun yang berada di dekat pejuang atau fasilitas Hizbullah dapat berada dalam risiko.

Baca juga:  Trump Skeptis atas Proposal Baru Iran, Buka Peluang Lanjutkan Aksi Militer

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)