Ilustrasi pesawat tempur Foto: Anadolu
#OnThisDay 8 April, Jet Tempur Israel Serang Sekolah Dasar Mesir 46 Anak Tewas
Whisnu Mardiansyah • 8 April 2026 08:31
Mesir: Pagi itu, Rabu, 8 April 1970, berjalan seperti hari-hari biasa di desa kecil Bahr el-Baqar, Provinsi Sharqia, Mesir. Anak-anak datang ke sekolah dengan membawa buku. Tidak ada tanda bahwa beberapa menit kemudian ruang kelas mereka akan berubah menjadi puing.
Sekitar pukul 09.20 waktu setempat, suara gemuruh terdengar dari langit. Pesawat tempur muncul, melintas rendah di atas desa. Dalam hitungan detik, suasana belajar yang tenang berubah menjadi kepanikan.
Bangunan Sekolah Dasar Bahr el-Baqar dihantam bom dan rudal. Dalam sekejap, ruang kelas hancur, meninggalkan reruntuhan dan kepulan debu. Puluhan anak tewas.
Desa Bahr el-Baqar bukan wilayah militer. Kawasan ini merupakan pedesaan yang jauh dari garis depan utama konflik. Namun pada saat itu, Mesir tengah terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan Israel yang dikenal sebagai Perang Atrisi.
Setelah kekalahan dalam Perang Enam Hari 1967, Mesir berupaya melemahkan posisi Israel melalui tekanan militer berkelanjutan di sepanjang Terusan Suez. Israel merespons dengan strategi serangan udara mendalam ke wilayah Mesir.
Strategi ini dikenal sebagai Operasi Priha, yang bertujuan menghancurkan infrastruktur dan menekan moral pemerintah Mesir. Dalam konteks inilah serangan ke Bahr el-Baqar terjadi.
Pagi itu, sekitar 130 siswa berada di dalam sekolah. Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa. Tiba-tiba, pesawat tempur Israel jenis F-4 Phantom II muncul di langit. Tidak ada sirene. Tidak ada peringatan. Dalam beberapa detik, bom dijatuhkan.
Sedikitnya lima bom dan dua rudal menghantam bangunan sekolah. Ledakan pertama merobohkan sebagian struktur. Ledakan berikutnya menghancurkan sisa bangunan.
Dinding runtuh. Atap ambruk. Meja dan kursi hancur. Anak-anak yang berada di dalam kelas tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Orang tua mencari anak-anak mereka di antara puing-puing. Banyak yang hanya menemukan tas, buku, atau serpihan pakaian. Hari itu, desa kecil tersebut berubah menjadi tempat berkabung. Bangunan sekolah satu lantai dengan tiga ruang kelas itu rata dengan tanah.
Data korban mencatat 46 anak tewas, lebih dari 50 orang luka-luka, dan sejumlah guru turut menjadi korban. Jumlah korban yang sebagian besar anak-anak membuat tragedi ini mengguncang dunia.
Di antara reruntuhan, ditemukan buku pelajaran yang hangus, papan tulis yang retak, dan tas-tas sekolah yang tertimbun debu. Simbol pendidikan berubah menjadi simbol kehancuran.
Pemerintah Israel mengeklaim target serangan adalah fasilitas militer. Mereka mengklaim lokasi tersebut diduga digunakan untuk kepentingan militer Mesir.
Menteri Pertahanan Israel saat itu, Moshe Dayan, menyebut kemungkinan adanya aktivitas militer di area tersebut. Menurut pernyataan resmi, serangan terjadi karena kesalahan identifikasi.
Sebaliknya, Pemerintah Mesir menegaskan sekolah tersebut murni fasilitas sipil. Presiden Mesir saat itu, Gamal Abdel Nasser, mengecam keras serangan tersebut. Ia menyebutnya sebagai tindakan barbar terhadap warga sipil, Rabu, 8 April 1970.
Mesir membawa isu ini ke forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serangan terhadap sekolah dasar dengan korban anak-anak memicu reaksi global. Media internasional menyoroti tragedi ini secara luas. Foto-foto korban dan reruntuhan sekolah menjadi simbol kekejaman perang.
Tekanan terhadap Israel meningkat, terutama terkait operasi serangan udara ke wilayah sipil. Peristiwa ini menjadi salah satu momen yang memperkuat kritik terhadap strategi perang udara yang tidak membedakan secara jelas antara target militer dan sipil.
Di luar dampak kemanusiaan, tragedi ini juga memiliki konsekuensi strategis. Pertama, tekanan internasional memaksa Israel untuk mengevaluasi strategi serangan mendalam ke wilayah Mesir.
Kedua, Mesir memanfaatkan peristiwa ini untuk memperkuat posisi diplomatiknya di dunia internasional. Ketiga, tragedi ini mempercepat upaya menuju gencatan senjata dalam Perang Atrisi yang akhnya terjadi pada Agustus 1970.
Bagi masyarakat Mesir, khususnya warga Bahr el-Baqar, tragedi ini meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh. Anak-anak yang selamat mengalami trauma berkepanjangan. Banyak keluarga kehilangan generasi penerus mereka dalam satu hari.
*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.