Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Bensin AS Bisa Tembus USD5/Galon

Ilustrasi. Foto: Rochesterfirst.com

Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Bensin AS Bisa Tembus USD5/Galon

Richard Alkhalik • 7 April 2026 19:22

Washington: Volatilitas harga minyak dunia saat ini masih memberikan tekanan bagi perekonomian Amerika Serikat (AS). Risiko tersebut terjadi karena langkah Iran yang masih memblokade Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Menurut analis JPMorgan Joyce Chang dan Natasha Kaneva, dikutip Yahoo Finance, Selasa, 7 April 2026, memproyeksikan harga bensin di AS berisiko menembus level USD5 per galon apabila penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan April.

Saat ini, harga bahan bakar tersebut telah mendekati kisaran USD4 per galon. Merujuk data AAA, harga rata-rata bensin nasional telah terkerek ke level USD4,12 per galon, mencatatkan eskalasi sebesar USD0,80 dibandingkan bulan sebelumnya.

Joyce Chang dan Natasha Kaneva mengungkapkan harga bensin AS telah meningkat hingga mendekati USD4 per galon. Dari hal tersebut adanya risiko harga melebihi USD5 per galon jika selat tersebut tetap tertutup secara efektif hingga pertengahan April.

Apabila skenario harga USD5 per galon terealisasi, angka tersebut akan mencetak rekor tertinggi baru sejak Juni 2022, kala harga BBM di AS sempat menyentuh level puncak USD5,02 per galon.

Beban pajak dan biaya operasional yang tinggi, ditambah terbatasnya kapasitas kilang penyulingan domestik serta tingginya ketergantungan pada impor bahan bakar olahan asal Asia, telah memicu tekanan kenaikan harga energi yang masif di kawasan Pantai Barat.
 
Baca juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM Somalia Meroket hingga 150%


(Ilustrasi BBM. Foto: dok MI/Panca Syurkani)
 

Sentuh level baru


Pada Senin, harga bahan bakar di California menyentuh level baru di kisaran USD5,92 per galon, sementara kawasan San Francisco telah menembus level USD6 per galon. Pada saat yang sama, harga solar di wilayah tersebut mencetak rekor tertinggi pada level USD7,68 per galon

Analis JPMorgan turut memproyeksikan setiap lonjakan USD0,10 pada harga rata-rata bahan bakar reguler tahun ini akan mengerek beban pengeluaran energi konsumen secara nasional hingga USD12 miliar.

Pengeluaran tersebut diprediksi akan menggerus sebagian besar, atau bahkan menghapus sepenuhnya, stimulus manfaat pajak yang diamanatkan dalam kebijakan "One Big Beautiful Bill Act" pemerintahan Trump.

Di pasar komoditas global, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat kembali terakselerasi menembus level USD112 per barel, sementara patokan Brent untuk kontrak pengiriman Juni terapresiasi di atas USD109 per barel.

Sentimen tersebut dipicu oleh laporan penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata terbaru dari AS. Di sisi lain, harga minyak mentah di kawasan Laut Utara melesat tajam menyentuh level USD140 per barel, yang merupakan rekor harga tertinggi sejak 2008.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)