Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia. (Anadolu Agency)
Rusia Salahkan AS dan Israel atas Ancaman Nuklir di Timur Tengah
Muhammad Reyhansyah • 20 May 2026 13:28
New York: Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Vassily Nebenzia pada Selasa, 19 Mei 2026 menyalahkan Amerika Serikat (AS) dan Israel atas meningkatnya ancaman keamanan nuklir di Timur Tengah, sementara Washington menuduh Iran menargetkan fasilitas nuklir sipil di Uni Emirat Arab.
Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB terkait dugaan serangan drone di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di UEA, Nebenzia mengatakan serangan terhadap fasilitas nuklir sipil di negara mana pun "sama sekali tidak dapat diterima."
"Posisi Rusia mengenai keselamatan dan keamanan nuklir bersifat prinsipil dan konsisten. Serangan yang menargetkan fasilitas nuklir damai di negara mana pun di dunia, terlebih yang berada di bawah pengawasan IAEA, secara kategoris tidak dapat diterima," ujarnya, dikutip dari Anadolu, Rabu, 20 Mei 2026.
Nebenzia menegaskan Moskow tetap berkomitmen terhadap kedaulatan dan integritas teritorial seluruh negara di kawasan, termasuk UEA.
Ia juga menyebut serangan terhadap fasilitas nuklir sipil bukanlah hal baru dengan merujuk pada serangan AS dan Israel terhadap situs nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan pada Juni 2025.
"Sudah sangat jelas bahwa hari ini kita tidak perlu membahas ancaman terhadap keselamatan nuklir dan keamanan radiologi di Timur Tengah jika bukan karena petualangan militer AS dan Israel terhadap Iran," kata Nebenzia.
"Washington dan Yerusalem Barat lah yang bertanggung jawab atas eskalasi kawasan saat ini," lanjutnya.
AS Tuduh Iran Bertindak Ceroboh
Nebenzia memperingatkan meningkatnya kekhawatiran mengenai ancaman "penghancuran total sistem energi Iran" di tengah retorika keras yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.Ia meminta semua pihak meninggalkan bahasa ancaman dan segera kembali ke jalur penyelesaian politik serta diplomatik demi tercapainya solusi jangka panjang.
Sementara itu, utusan AS Mike Waltz mengecam Iran "dengan sekeras-kerasnya" atas serangan drone yang disebut berasal dari Irak dan memperingatkan insiden itu bisa memicu bencana nuklir besar.
"Ini bisa saja menjadi serangan yang membuat kita membahas melelehnya reaktor nuklir dan krisis kemanusiaan serta lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Waltz.
Ia mempertanyakan apakah Iran berupaya "mempersenjatai pembangkit listrik tenaga nuklir" setelah gagal memperoleh senjata nuklir.
"Ironinya, ketika Iran secara sembrono berusaha memproduksi senjata nuklir, AS bertindak untuk menghentikannya. Kini karena putus asa dan sangat ceroboh, mereka justru mempersenjatai energi nuklir damai milik negara tetangga," ujarnya.
Pada Minggu, pejabat UEA mengatakan kebakaran terjadi di dekat pembangkit Barakah akibat serangan drone yang berasal dari wilayah Irak.
Ketegangan kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sekutu AS di Teluk termasuk UEA serta menutup Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu.
Baca juga: Serangan Drone Sebabkan Kebakaran di Dekat PLTN Barakah UEA