DIskusi serta peluncuran film dokumenter dengan tema “Meneruskan Warisan Perjuangan Aceh: Kepemimpinan Perempuan untuk Perdamaian, Aksi Kemanusiaan, dan Aceh yang Tangguh” di Banda Aceh pada Kamis (1/10/2026). ANTARA/HO-UN Women
Kemenko PMK Perkuat Peran Perempuan dalam Pengurangan Risiko Bencana
Achmad Zulfikar Fazli • 1 October 2026 17:32
Banda Aceh: Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama UN Women memperkuat peran perempuan di Provinsi Aceh dalam pengurangan risiko bencana. Keterlibatan dan kepemimpinan perempuan sangat penting menjaga perdamaian dan memperkuat ketangguhan daerah.
"Edukasi kebencanaan terhadap seluruh pemangku kepentingan termasuk perempuan dan anak merupakan bagian tak terpisahkan dalam memperkuat literasi bencana," kata Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo di Banda Aceh, dilansir dari Antara, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut dia, perempuan dan anak dapat berperan aktif sebagai agen pengurangan risiko bencana atau mitigator di seluruh Indonesia, termasuk Aceh. Dia menilai literasi bencana kepada semua komponen termasuk di dalamnya anak dan perempuan menjadi penyangga utama dalam prinsip Kita Tangguh dari Kemenko PMK.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah untuk memperkuat kesadaran, kemitraan, dan komitmen terhadap kepemimpinan perempuan.
“Kita berharap lewat kegiatan ini dapat menghasilkan rekomendasi praktis bagi pencegahan konflik, kesiapsiagaan bencana, respons kemanusiaan, dan pemulihan yang inklusif, termasuk melalui program KITA TANGGUH dan mekanisme terkait lainnya di Aceh,” kata Lilik.

Banjir dan longsor melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Foto: Dokumentasi BPBA
Dalam acara tersebut menampilkan film Inong Peudame sebagai materi advokasi agenda Perempuan, Perdamaian dan Keamanan serta pembelajaran lintas generasi.
Kegiatan tersebut mengedepankan dialog antara perempuan pembangun perdamaian, masyarakat sipil, generasi muda, serta Pemerintah di tingkat nasional dan daerah mengenai pembelajaran dari Aceh dalam menjaga perdamaian, mengatasi dampak konflik lintas generasi.
Kegiatan tersebut juga bertujuan memperkuat pelaksanaan serta pelokalan Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial atau (RAN P3AKS) Generasi III.
Wakil dari UN Women, Yulies, menambahkan diskusi tersebut bertujuan menghubungkan program atau kebijakan tingkat nasional dengan pelokalan dan implementasinya di daerah, seperti RAN P3AKS Generasi III, KITA TANGGUH, dan pemulihan pascabencana.
Menurut dia, program tersebut perlu dilakukan berkesinambungan dan guna memperkuat peran perempuan dan anak dalam pengurangan risiko bencana dan konflik sosial di Aceh.