Mengenal Bencana Hidrometeorologi, Jenis dan Cara Mitigasinya

Ilustrasi awan. Foto: Dok. Antara.

Mengenal Bencana Hidrometeorologi, Jenis dan Cara Mitigasinya

Angel Rinella • 7 October 2026 11:38

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bencana hidrometeorologi sebagai fenomena alam atau proses yang dapat menimbulkan kerusakan akibat kondisi atmosfer, air, maupun lautan. Kejadian tersebut dapat berdampak pada keselamatan manusia, kesehatan, harta benda, mata pencaharian, kegiatan sosial ekonomi, hingga lingkungan.

Mengutip laman BMKG, bencana hidrometeorologi berkaitan dengan berbagai kondisi cuaca dan air yang dapat memicu kejadian berbahaya. Beberapa di antaranya berupa hujan ekstrem, banjir, angin kencang, puting beliung, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Bencana hidrometeorologi dapat terjadi dalam kondisi basah maupun kering, tergantung faktor cuaca yang memicunya. Masyarakat perlu mengenali jenis bencana tersebut agar dapat mengetahui risiko dan langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi cuaca berubah.

Selain masyarakat, pemerintah juga memiliki peran dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi melalui berbagai langkah mitigasi. Berikut pengertian, jenis, serta upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang perlu diketahui.



Ilustrasi Bencana Alam Banjir. Foto: Dok. metrotvnews.com/Fajri 

Apa Itu Bencana Hidrometeorologi?

BMKG menjelaskan bencana hidrometeorologi sebagai kejadian yang berkaitan dengan proses di atmosfer, hidrologi, atau oseanografi dan dapat menimbulkan berbagai dampak. Dampaknya dapat berupa korban jiwa, cedera, gangguan kesehatan, kerusakan harta benda, kehilangan mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial ekonomi, hingga kerusakan lingkungan.

Sejumlah fenomena yang termasuk dalam kelompok tersebut antara lain badai siklon tropis, badai petir, badai es, tornado, curah hujan ekstrem, banjir, embun, dan suhu dingin. Fenomena tersebut memiliki karakteristik dan pemicu yang berbeda sehingga penanganannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Contoh Bencana Hidrometeorologi

Bencana hidrometeorologi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan curah hujan hingga kondisi angin dan udara. Berikut contoh bencana hidrometeorologi yang perlu diketahui:

  • Curah Hujan Ekstrem

    Curah hujan ekstrem terjadi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan melampaui kondisi normal dalam periode tertentu, baik menit, jam, hari, maupun bulan. Kondisi ini dapat dipicu pertumbuhan awan konvektif cumulonimbus yang berkembang secara masif hingga lapisan atmosfer tinggi.

    Awan cumulonimbus juga dapat membawa angin kencang, hujan es, dan potensi puting beliung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bencana di wilayah yang terdampak.
  • Angin Kencang

    Angin kencang terjadi ketika kecepatan angin mencapai lebih dari 27,8 kilometer per jam dan bergerak dari wilayah bertekanan udara tinggi menuju wilayah dengan tekanan lebih rendah. Jika peningkatan angin terjadi secara tiba-tiba dalam hitungan detik atau menit, fenomena tersebut disebut gusty dan berkaitan dengan pertumbuhan awan cumulonimbus.
  • Puting Beliung

    Puting beliung berupa angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 kilometer per jam dan bergerak dalam lintasan relatif lurus. Kejadian ini dapat berlangsung maksimal sekitar lima menit hingga beberapa menit dan umumnya terjadi pada siang sampai sore hari saat masa pancaroba.
  • Tanah Longsor

    Tanah longsor dapat terjadi di wilayah dengan kondisi lereng tertentu, mulai dari kawasan pegunungan hingga tebing pantai dan dasar laut. Hujan lebat, gempa bumi, serta perubahan kemiringan lereng akibat pembangunan jalan menjadi beberapa faktor yang dapat memicu longsor.
  • Kekeringan

    Kekeringan terjadi ketika suatu wilayah mengalami kekurangan curah hujan dalam periode tertentu. Kondisi tersebut dapat menurunkan kelembapan tanah, merusak tanaman, serta berdampak pada sektor pertanian, sosial, dan ekonomi.
  • Kebakaran Hutan dan Lahan

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terjadi ketika pohon, semak, paku-pakuan, dan rumput di suatu wilayah terbakar. Penyebabnya dapat berasal dari faktor alam, seperti kekeringan, musim kemarau panjang, dan sambaran petir, maupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok, dan membakar sampah di sekitar hutan.

    Di Indonesia, sebanyak 95 persen karhutla disebabkan oleh aktivitas manusia. Kondisi tersebut membuat pencegahan melalui perilaku masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla.
  • Kualitas Udara Buruk

    Kualitas udara buruk berkaitan dengan tingginya tingkat polusi yang berasal dari asap, debu, kabut asap, maupun zat pencemar lainnya. Kondisi udara dapat diketahui melalui konsentrasi polutan serta sejumlah indeks kualitas udara.
  • Banjir

    Banjir terjadi ketika air meluap dan menggenangi wilayah yang biasanya dalam kondisi kering. Kejadian ini dapat dipicu luapan sungai, danau, atau laut akibat air melewati atau merusak tanggul, maupun akumulasi air hujan pada tanah yang sudah jenuh.

Bencana Alam di Aceh. Foto: Dok. metrotvnews.com/Fajri F

Bencana Hidrometeorologi Basah dan Kering

Bencana hidrometeorologi juga dapat dikelompokkan berdasarkan kondisi yang memicunya. Pembagian tersebut terdiri dari bencana hidrometeorologi basah dan bencana hidrometeorologi kering.

  • Bencana Hidrometeorologi Basah

    Bencana hidrometeorologi basah berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem, terutama hujan dengan intensitas sangat tinggi yang melampaui kondisi normal. Jenis bencana ini lebih sering terjadi pada periode musim hujan.

    Kelompok bencana hidrometeorologi basah mencakup banjir, tanah longsor, dan puting beliung. Ketiganya dapat terjadi ketika kondisi cuaca mendukung terbentuknya hujan lebat dan angin kencang.

  • Bencana Hidrometeorologi Kering

    Bencana hidrometeorologi kering terjadi ketika suatu wilayah mengalami kekurangan hujan atau tidak mendapatkan hujan dalam waktu yang panjang. Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan musim kemarau yang berlangsung lebih lama.

    Jenis bencana yang termasuk kelompok ini antara lain kekeringan, kebakaran hutan, dan kebakaran lahan. Dampaknya dapat dirasakan pada lingkungan, pertanian, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Jenis Bencana Hidrometeorologi

Selain berdasarkan kondisi basah dan kering, bencana hidrometeorologi memiliki sejumlah jenis yang dapat terjadi di berbagai wilayah. Jenis tersebut meliputi:

  1. Kekeringan.
  2. Banjir.
  3. Badai.
  4. Kebakaran hutan.
  5. Tanah longsor.
  6. Angin puyuh.
  7. Gelombang dingin.
  8. Gelombang panas.

Beragam kejadian tersebut memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Pengetahuan mengenai jenis bencana dapat membantu masyarakat mengenali potensi bahaya yang mungkin terjadi di lingkungannya.

Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kondisi lingkungan sekaligus mengikuti informasi cuaca dari sumber yang tepercaya.

Berikut langkah yang dapat dilakukan masyarakat:

  1. Memangkas daun dan ranting pada pohon besar.
  2. Tidak membuang sampah sembarangan.
  3. Menjaga kebersihan lingkungan.
  4. Membersihkan saluran air hingga sungai.
  5. Memperbarui informasi prakiraan cuaca dari sumber yang kompeten.

Di sisi lain, pemerintah juga dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko bencana yang dipicu curah hujan tinggi. Upaya tersebut mencakup modifikasi cuaca dengan mengurangi curah hujan, menyiagakan petugas teknis di lapangan, serta menggelar apel siaga secara rutin.

Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah perlu dilakukan secara bersamaan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Dengan mengenali jenis bencana dan mengikuti informasi cuaca, masyarakat dapat lebih siap mengambil langkah saat kondisi berisiko terjadi.

(Arga Sumantri)