Foto: Unsplash
OpenAI Pasang Watermark pada Teks ChatGPT, Ini Fungsi dan Cara Kerjanya
Putri Purnama Sari • 8 October 2026 12:37
Jakarta: OpenAI akan mulai menerapkan watermark tak terlihat pada teks yang dihasilkan ChatGPT dan Codex di Uni Eropa. Kebijakan tersebut diumumkan OpenAI melalui laman resminya pada 5 Oktober 2026.
OpenAI menerapkan watermark teks sebagai salah satu upaya memenuhi ketentuan EU AI Act yang mewajibkan penyedia AI generatif membuat konten yang dihasilkan AI dapat diidentifikasi secara machine-readable.
Penerapan watermark teks akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Pada tahap awal, kebijakan tersebut hanya berlaku bagi output ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa.
Apa Itu Watermark Teks ChatGPT?
Watermark teks merupakan sinyal digital yang disisipkan ke dalam teks tanpa terlihat oleh pembaca. Karena itu, watermark ini berbeda dengan tanda atau tulisan yang muncul secara kasatmata di bagian akhir maupun di dalam jawaban ChatGPT.
OpenAI menggunakan teknologi bernama textGrain untuk memberikan sinyal tersebut. Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan pola statistik dalam pemilihan kata yang dihasilkan model.
Sinyal tersebut kemudian dapat diperiksa menggunakan alat pendeteksi khusus milik OpenAI. Alat tersebut akan menilai apakah sebuah teks memiliki pola yang sesuai dengan watermark OpenAI.
Mekanisme ini dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan sebuah teks dihasilkan atau diproses oleh sistem OpenAI.
Bagaimana Cara Kerja Watermark ChatGPT?
Watermark tidak dibuat dengan menambahkan karakter, simbol, atau tulisan tertentu ke dalam hasil ChatGPT.
Sebaliknya, textGrain memberikan sinyal statistik berdasarkan pilihan kata yang digunakan model ketika menghasilkan teks. Pola tersebut kemudian menjadi dasar bagi alat pendeteksi untuk mencari kemungkinan adanya watermark.
Karena sinyalnya tidak terlihat, pengguna yang membaca teks secara biasa tidak akan mengetahui apakah sebuah teks memiliki watermark. Namun, watermark dapat menjadi salah satu indikator ketika teks diperiksa menggunakan alat pendeteksi yang sesuai.
Seberapa Akurat Pendeteksi Watermark?

Ilustrasi kecerdasan buatan. (Metrotvnews.com)
Watermark tidak dapat mendeteksi semua teks secara akurat 100 persen. Kemampuan sistem untuk mendeteksi watermark dipengaruhi oleh panjang dan jenis teks. Semakin pendek teks, semakin sulit sinyal watermark dikenali.
OpenAI menyebut sistem pendeteksi dapat mengalami dua jenis kesalahan. Pertama, false positive, yaitu sistem menyatakan terdapat watermark padahal sebenarnya tidak ada. Kedua, false negative, yaitu sistem gagal mendeteksi watermark yang sebenarnya ada.
Dalam evaluasi OpenAI dengan target false positive 1 persen, watermark dapat terdeteksi pada sekitar 80 persen teks sepanjang 200 token dan sekitar 95 persen teks sepanjang 400 token untuk materi seperti psikologi.
Namun, tingkat deteksi dapat lebih rendah pada topik tertentu. Dalam teks matematika, misalnya, pilihan kata cenderung lebih terbatas sehingga sistem memiliki lebih sedikit fleksibilitas untuk menghasilkan pola watermark.
Kelemahan lainnya dapat terjadi ketika pengguna mengubah isi teks. Dalam pengujian terhadap teks sepanjang 400 token, OpenAI menemukan bahwa penggantian 10 persen kata dengan sinonim menurunkan tingkat deteksi watermark dari sekitar 92 persen menjadi 66 persen.
Ketika 25 persen kata diganti, tingkat deteksinya turun lebih jauh menjadi sekitar 17 persen. Hasil ini menunjukkan perubahan pada teks dapat membuat sinyal watermark semakin sulit dikenali oleh sistem.
Apa yang Tidak Bisa Dibuktikan Watermark?
Watermark dapat memberikan sinyal mengenai keterlibatan sistem OpenAI dalam sebuah teks. Namun, hasil deteksi tidak dapat digunakan untuk mengetahui keseluruhan proses pembuatan teks.
Misalnya, watermark tidak dapat menentukan apakah seseorang hanya menggunakan ChatGPT untuk membuat draf awal, kemudian mengedit sebagian besar teks sendiri, atau hampir tidak melakukan perubahan sama sekali.
OpenAI secara khusus menjelaskan beberapa hal yang tidak dapat dibuktikan oleh watermark, yaitu:
- Tidak mengukur kontribusi manusia. Sistem tidak dapat menentukan seberapa banyak penilaian, penyuntingan, atau kreativitas manusia yang digunakan dalam sebuah teks.
- Tidak menentukan kepemilikan atau tanggung jawab. Hasil deteksi tidak dapat menunjukkan siapa pemilik teks, apakah penggunaannya legal, apakah suatu penggunaan wajib diungkapkan, atau siapa yang bertanggung jawab atas isi tersebut.
- Tidak mengidentifikasi pengguna. Alat pendeteksi tidak menghubungkan teks dengan nama, organisasi, akun, prompt, maupun percakapan tertentu.
- Tidak menunjukkan kebenaran isi teks. Teks yang memiliki watermark tetap perlu diperiksa secara terpisah untuk mengetahui akurasi informasinya.
Apakah Watermark akan Berlaku di Indonesia?
Penerapan watermark yang diumumkan OpenAI saat ini ditujukan untuk pengguna ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa. OpenAI belum menyatakan bahwa watermark tersebut akan langsung diterapkan kepada seluruh pengguna di negara lain.
Dalam pengumumannya, OpenAI bahkan menyebut penerapan tersebut belum dijadikan standar global pada tahap awal. Perusahaan memilih pendekatan regional untuk mempelajari penggunaan watermark dan mendapatkan masukan sebelum memperluas penerapannya.
“Dalam beberapa minggu mendatang, kami akan memperkenalkan watermark teks kepada pengguna ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di semua paket di Uni Eropa saja. Kami tidak menjadikan watermark teks sebagai fitur default global saat peluncuran. Pendekatan regional ini memberi kami ruang untuk belajar dari penggunaan dan umpan balik di dunia nyata,” dikutip dari keterangan resmi OpenAI.
(Siti Nahdia Usman)