Viral Tren Foto 80-an Pakai AI, Benarkah Bisa Bikin Bumi Makin Panas?

Ilustrasi. Generate by AI.

Viral Tren Foto 80-an Pakai AI, Benarkah Bisa Bikin Bumi Makin Panas?

14 September 2026 20:28

Jakarta: Tren mengubah foto menjadi bergaya era 1980-an menggunakan platform kecerdasan buatan ChatGPT tengah ramai dilakukan warganet di media sosial. Foto dengan nuansa retro bermunculan di berbagai unggahan dan membuat warganet lain ikut mencoba tren tersebut.

Tren ini membuat warganet bisa melihat wajah mereka dalam tampilan khas era 80-an hanya dengan mengunggah foto ke ChatGPT. Fitur image generation memungkinkan proses tersebut dilakukan dalam waktu singkat tanpa warganet harus membuat prompt sendiri.

Sebelumnya, tren serupa juga sempat ramai ketika warganet mengubah foto mereka menjadi bergaya Studio Ghibli. Ramainya penggunaan fitur AI tersebut bahkan membuat CEO OpenAI Sam Altman meminta warganet untuk mengurangi pembuatan gambar.

Di balik kemudahan mengubah foto dalam hitungan detik, ada proses komputasi yang membutuhkan listrik dan menghasilkan panas.

Lalu, apakah tren foto 80-an menggunakan ChatGPT bisa ikut berdampak pada lingkungan? Simak penjelasan berikut.

Di Balik Foto AI, Ada Konsumsi Listrik yang Besar 

Gambar yang muncul di layar ponsel sebenarnya diproses oleh mesin berdaya tinggi yang berada di dalam data centre. Perangkat tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah tertentu dan menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendingin agar dapat terus beroperasi.

Dilansir Firstpost, Penelitian Carnegie Mellon University dan Hugging Face memperkirakan pembuatan satu gambar AI membutuhkan listrik sekitar 0,01 hingga 0,29 kilowatt-jam (kWh). Besarnya konsumsi tersebut dapat berbeda tergantung sistem dan proses yang digunakan untuk menghasilkan gambar.

Angka itu mungkin terlihat kecil jika hanya digunakan untuk membuat satu foto. Namun, kebutuhan energinya dapat bertambah ketika pengguna membuat beberapa versi gambar dan jutaan orang mengikuti tren yang sama.

Pertumbuhan penggunaan AI juga mulai memberikan tekanan lebih besar terhadap infrastruktur data centre di berbagai negara. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik data centre secara global akan meningkat lebih dari dua kali lipat hingga 2030.

Kebutuhan listrik data centre di Amerika Utara juga menunjukkan peningkatan yang cukup besar. Data dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencatat kebutuhan daya meningkat dari 2.688 megawatt pada akhir 2022 menjadi 5.341 megawatt setahun kemudian.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan penggunaan listrik. Data centre juga membutuhkan air untuk sistem pendingin, sementara pembuatan server, GPU, dan berbagai komponen lainnya menambah beban terhadap lingkungan.

Ada Air yang Terpakai di Balik Setiap Proses AI 

Kebutuhan air menjadi bagian dari dampak AI yang sulit dilihat oleh pengguna karena prosesnya berlangsung di balik layar. Air digunakan dalam sistem pendingin untuk membantu menjaga peralatan di data centre tetap bekerja pada suhu yang sesuai.

Penelitian University of California, Riverside memperkirakan proses pelatihan GPT-3 dapat membutuhkan sekitar 700.000 liter air tawar. Peneliti juga memperkirakan sekitar 20 hingga 50 sesi tanya jawab dengan ChatGPT dapat berkaitan dengan penggunaan air sekitar 500 mililiter.

Namun, angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai jumlah air yang selalu digunakan untuk setiap percakapan dengan ChatGPT. Besarnya penggunaan air dapat berbeda berdasarkan lokasi data centre, teknologi pendingin, sumber listrik, serta beban kerja sistem.

Artinya, tidak ada angka penggunaan air yang berlaku secara universal untuk setiap prompt ChatGPT maupun gambar yang dibuat AI. Meski begitu, layanan AI tetap bergantung pada infrastruktur fisik yang membutuhkan sumber daya untuk menjalankan dan mendinginkannya.

Perangkat AI Juga Berdampak ke Lingkungan 

Jejak lingkungan AI juga tidak hanya muncul ketika pengguna menekan tombol untuk menghasilkan gambar. Dampaknya sudah dimulai dari proses pembuatan perangkat yang digunakan untuk menjalankan teknologi tersebut.

Data centre membutuhkan GPU, server, perangkat jaringan, dan berbagai komponen semikonduktor. Proses produksinya memerlukan bahan tambang, energi dalam jumlah besar, serta rantai pasok yang panjang.

United Nations Environment Programme (UNEP) juga menyoroti besarnya kebutuhan material dalam produksi perangkat elektronik. Sebagai gambaran, pembuatan komputer dengan berat sekitar 2 kilogram dapat membutuhkan ratusan kilogram bahan baku.

Karena itu, dampak lingkungan dari sebuah gambar AI tidak cukup dihitung berdasarkan listrik yang digunakan saat gambar dibuat. Ada pula jejak dari penambangan bahan material, produksi chip, pembuatan perangkat, pengiriman, pembangunan data centre, hingga limbah elektronik setelah perangkat tidak lagi digunakan.

AI memang memiliki banyak manfaat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian, pekerjaan, aksesibilitas, hingga kreativitas. Namun, tren viral dapat mendorong pengguna membuat gambar berulang kali hanya karena mengikuti apa yang sedang dilakukan banyak orang.

Membuat lima versi dari foto yang sama mungkin terasa tidak memberikan dampak besar jika dilakukan oleh satu orang. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan jutaan pengguna secara bersamaan, kebutuhan komputasi dan sumber daya yang digunakan ikut meningkat.

Tren foto bergaya 80-an pada akhirnya akan tergantikan oleh tren AI lain di media sosial. Meski tren tersebut menghilang, infrastruktur yang menopang layanan AI tetap membutuhkan listrik, air, perangkat keras, dan berbagai sumber daya lainnya.

Pengguna perlu menyadari bahwa gambar digital yang terlihat sederhana di layar tetap dihasilkan melalui proses fisik yang membutuhkan sumber daya nyata.

(Angel Rinella)

(Arga Sumantri)