Kinerja Polri Diakui Dunia Internasional

Ilustrasi Polri/MI

Kinerja Polri Diakui Dunia Internasional

Siti Yona Hukmana • 1 October 2024 18:31

Jakarta: Kinerja Polri mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Hal itu berdasarkan riset International Police Science Association (IPSA) berkolaborasi dengan Institute for Economics and Peace (IEP).

"Hasilnya, Polri menempati peringkat ke-63 dari 125 negara dengan skor rata-rata 0,510 atau naik 21 peringkat dibanding sebelumnya di posisi 84 dari 127 negara. Sebuah lompatan signifikan yang diakui dunia internasional," kata Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 Oktober 2024.

Haidar mengatakan IPSA adalah sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Tahun 2013 dan terdaftar di Amerika Serikat. Sedangkan IEP merupakan lembaga riset, konsultan, dan pelatihan yang didirikan Tahun 2007 dan berbasis di Australia.

Dalam laporan bertajuk World Internal Security and Police Index (WISPI) 2023, IPSA dan IEP mengukur kemampuan kepolisian suatu negara dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat maupun keselamatan anggotanya.
 

Baca: Gerak Cepat Polisi Tangkap 5 Pelaku Pembubaran Diskusi di Kemang Diapresiasi

Haidar menuturkan riset tersebut menggunakan 12 indikator yang dikelompokkan ke dalam empat domain berbeda. Pertama, domain kapasitas dengan mengevaluasi sumber daya yang dialokasikan masing-masing negara untuk memperkuat aparat keamanan dalam negeri.

"Kedua, domain proses dengan menyelidiki efektivitas penggunaan sumber daya. Ketiga domain legitimasi, dengan mengukur sentimen publik terhadap aparat keamanan. Keempat, domain hasil dengan meneliti ancaman yang ada terhadap keamanan dalam negeri pada tahun tertentu.

"Untuk keempat domain itu, Polri mendapatkan skor masing-masing 0,380 (kapasitas); 0,130 (proses); 0,580 (legitimasi); dan 0,920 (hasil). Semakin tinggi skornya, maka akan semakin baik," ujar Haidar.

Haidar mengatakan khusus untuk domain hasil dengan skor 0,920 menjadi yang tertinggi ketiga di antara 125 negara setelah Norwegia (0,940) dan Singapura (0,960). Bahkan, lebih tinggi dari Denmark (0,890) dan Finlandia (0,880) yang menempati peringkat 1 dan 2.

"Artinya, gangguan keamanan yang ada saat ini termasuk berisiko rendah dan bukan ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban dalam negeri Indonesia," jelas Haidar.

Namun, dengan capaian yang bagus pada kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo itu, Polri diminta tidak boleh berpuas diri. Menurut Haidar, perlu perbaikan pada domain kapasitas dan domain proses terkait alokasi dan efektivitas sumber daya.

"Yang skornya masih lebih rendah dari dua domain lainnya," imbuh Haidar.

Di sisi lain, Haidar menyebut angka kriminalitas di Indonesia, kawasan Asia Tenggara, Benua Asia maupun dunia menunjukkan peningkatan. Global Criminalization Crime Index mencatat, Indonesia menempati peringkat ke-21 dalam daftar negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia.

Indonesia mendapatkan skor 6,85 poin di tahun 2023 atau naik 0,48 poin dibanding tahun 2022. Sedangkan tingkat kriminalitas di Asia Tenggara naik 0,37 poin menjadi 5,82 poin. Sementara itu, tingkat kriminalitas di Asia naik 0,17 poin menjadi 5,47 poin. Secara global, tingkat kriminalitas naik 0,16 poin menjadi 5,03 poin.

"Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, sinergitas dengan lembaga lain serta melihat terobosan dan perbaikan kinerja yang signifikan, saya optimis Polri mampu mengendalikan gangguan kamtibmas menghadapi tantangan keamanan dalam negeri, kawasan dan global," pungkas Haidar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)