Kidung Racik Harmoni Tifa, Sape, dan Kulcapi di Pagelaran Sabang Merauke 2026

Lewat Pagelaran Sabang Merauke 2026, sejumlah instrumen dari berbagai daerah akan dibawa ke satu panggung dan dipertemukan dengan orkestra, penyanyi, serta paduan suara (Foto:Dok.Ist)

Kidung Racik Harmoni Tifa, Sape, dan Kulcapi di Pagelaran Sabang Merauke 2026

Rosa Anggreati • 3 August 2026 13:54

Jakarta: Indonesia punya ratusan alat musik tradisional, tetapi berapa banyak yang benar-benar kita kenal? Lewat Pagelaran Sabang Merauke 2026, sejumlah instrumen dari berbagai daerah akan dibawa ke satu panggung dan dipertemukan dengan orkestra, penyanyi, serta paduan suara.

Proses tersebut berada di tangan Dunung Basuki, atau yang lebih dikenal dengan nama Kidung. Sebagai Penata Musik Tradisional PSM 2026, Kidung memilih instrumen yang sesuai untuk setiap bagian, menyusun pola permainannya, mengarahkan para musisi, serta memastikan karakter asli alat musik tetap terasa ketika masuk ke dalam aransemen pertunjukan.

Pekerjaan itu cukup rumit karena setiap instrumen memiliki cara kerja yang berbeda. Alat musik pukul seperti tifa lebih banyak membangun ritme, kulcapi dari tradisi Karo membawa melodi melalui petikan, sementara sape membutuhkan ruang agar detail nadanya tidak tenggelam. Kidung perlu menentukan kapan sebuah instrumen tampil menonjol dan kapan cukup mengisi bagian tertentu agar seluruh musik tetap seimbang.

Salah satu instrumen yang hadir adalah tifa, alat musik pukul yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua dan Maluku. Tifa umumnya dibuat dari kayu yang dilubangi, lalu salah satu sisinya ditutup dengan kulit hewan. Instrumen ini digunakan dalam berbagai tarian, upacara adat, hingga kegiatan bersama masyarakat. Bentuk dan cara penggunaannya juga berkembang berbeda di setiap daerah; tifa Papua, misalnya, kerap memiliki pegangan, sementara bentuk dari Maluku umumnya menyerupai tabung tanpa pegangan.
 


Dari Sumatra Utara, Pagelaran Sabang Merauke - Hanya Indonesia yang Punya 2026 juga membawa warna musik Karo. Musik Karo sebenarnya bukan nama satu alat, melainkan tradisi musikal yang terdiri atas beberapa jenis instrumen dan ansambel. 

Salah satu alat yang paling khas adalah kulcapi, instrumen petik berbahan kayu dengan leher panjang dan dua senar. Kulcapi dapat dimainkan sendiri untuk mengiringi cerita atau nyanyian, maupun bersama instrumen Karo lainnya. Dahulu, penggunaannya dekat dengan ritual dan upacara adat, lalu berkembang menjadi bagian dari pertunjukan serta musik Karo modern.

Dalam tradisi Karo juga dikenal Gendang Lima Sedalanen, sebuah ansambel yang terdiri atas lima instrumen: sarune, gendang singindung, gendang singanaki, penganak, dan gung. Kelimanya tidak dimainkan secara terpisah, tetapi saling mengisi untuk membentuk satu susunan musik. Ansambel ini telah lama hadir dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Karo dan menunjukkan bahwa kata “gendang” dalam konteks ini merujuk pada sajian musik, bukan hanya satu jenis drum.

Kalimantan hadir melalui sape, alat musik petik masyarakat Dayak yang bentuknya sekilas menyerupai gitar. Sape biasanya dibuat dari satu bongkah kayu, kemudian dihiasi ukiran khas. Instrumen ini awalnya dekat dengan ritual, pengobatan, serta kehidupan di rumah panjang, lalu berkembang menjadi pengiring tarian, perayaan, dan karya musik masa kini. Perjalanan tersebut membuat sape tetap hidup tanpa harus meninggalkan identitas Dayaknya.
 
Tantangan Kidung bukan sekadar membuat ketiga warna musik ini terdengar bersamaan. Tifa dapat mudah menguasai bagian ritme, sementara petikan kulcapi dan sape lebih gampang tertutup oleh orkestra serta vokal. Karena itu, aransemen perlu memberi ruang yang berbeda bagi masing-masing instrumen, mulai dari pengaturan jumlah pemain, pola permainan, dinamika, sampai momen kemunculannya. 

Pertemuan alat musik tradisional dengan orkestra modern akhirnya bukan soal mana yang harus lebih dominan. Kuncinya justru ada pada pembagian ruang. Kapan instrumen tradisional tampil di depan, kapan menjadi detail, dan kapan berhenti agar bagian lain bisa terdengar.

Lewat penataan Kidung, alat-alat musik tersebut hadir bukan sebagai koleksi yang dipamerkan satu per satu. Setiap bunyi menjadi bagian dari perjalanan “Hikayat Srikandi Nusantara,” sekaligus membuka cara yang lebih seru bagi generasi hari ini untuk kembali mengenal musik tradisional Indonesia.

(Rosa Anggreati)