Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka ke Rp17.489/USD Selasa Pagi
Eko Nordiansyah • 12 May 2026 09:11
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan saat dolar AS menguat.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 12 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.489 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 75 poin atau setara 0,43 persen dari Rp17.414 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.410 per USD. Rupiah masih bergerak melemah dari Rp17.370 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah fluktuatif namun melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah untuk perdagangan hari ini akan fluktuatif namun ditutup melemah. Mata uang Garuda bergerak di rentang antara Rp17.410 - Rp17.460 per USD.Ibrahim menyebut, rupiah melemah imbas perundingan yang buntu antara AS dan Iran terkait keputusan perdamaian di Timur Tengah. Menurutnya, investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik.
“Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan risiko geopolitik,” katanya.
Ketegangan geopolitik ini terjadi menjelang kunjungan Trump ke Tiongkok yang dijadwalkan akhir pekan ini. Presiden AS diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing.
Pertemuan puncak tersebut kemungkinan akan fokus pada perdagangan, Taiwan, dan konflik Iran, dengan Beijing dipandang sebagai pemain diplomatik kunci, karena memiliki hubungan cukup baik dengan Teheran.
Melihat sentimen domestik, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada April 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap terjaga di zona optimistis. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level 123,0 atau meningkat tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.
“Level indeks di atas 100 mencerminkan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi,” ungkap dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com