PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)
Sekutu PM Benjamin Netanyahu Dorong Larangan Partai Arab Ikut Pemilu Israel
Muhammad Reyhansyah • 25 May 2026 20:06
Tel Aviv: Sekutu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah menyiapkan strategi politik dan hukum untuk melarang partai Arab United Arab List atau Ra’am mengikuti pemilu Knesset berikutnya.
Menurut laporan Channel 13 Israel yang dikutip Anadolu, Senin, 25 Mei 2026, langkah tersebut berlangsung bersamaan dengan pembahasan kemungkinan menetapkan cabang selatan Gerakan Islam sebagai organisasi teroris.
Diskusi di kalangan sekutu Netanyahu disebut berfokus pada upaya mengambil tindakan terhadap Gerakan Islam yang dianggap sebagai induk organisasi Ra’am atas tuduhan menyalurkan donasi ke Gaza selama perang berlangsung.
Laporan itu mengutip dua sumber yang dekat dengan Netanyahu dan menyebut langkah tersebut memerlukan legislasi di Knesset serta penilaian dari badan keamanan Israel, khususnya dinas keamanan dalam negeri Shin Bet.
Hingga kini belum ada tanggal resmi untuk pemilu Israel berikutnya, namun pembahasan tersebut disebut menjadi bagian dari persiapan politik menjelang pemungutan suara.
Belum ada komentar langsung dari kantor Netanyahu maupun pihak Ra’am terkait laporan tersebut.
Tekanan terhadap Kelompok Arab Meningkat
Dipimpin Mansour Abbas, Ra’am menjadi partai Arab pertama yang bergabung dalam koalisi pemerintahan Israel pada 2021 di bawah pemerintahan Naftali Bennett dan Yair Lapid.Langkah tersebut memicu perdebatan luas di Israel maupun di kalangan komunitas Arab. Saat ini Ra’am memiliki lima kursi di Knesset.
Wacana politik di Israel disebut semakin menekan partai dan gerakan Arab sejak perang di Gaza dimulai.
Kelompok sayap kanan Israel berulang kali menuduh sejumlah faksi Arab "mendukung terorisme" karena sikap mereka terhadap perang dan aktivitas kemanusiaan terkait Gaza.
Masa jabatan Knesset saat ini dijadwalkan berakhir pada Oktober mendatang.
Namun parlemen Israel pada Rabu lalu telah menyetujui pemungutan suara awal untuk membubarkan parlemen yang berpotensi membuka jalan bagi pemilu lebih awal apabila rancangan itu lolos dalam tiga pembacaan berikutnya.
Militer Israel melancarkan ofensif besar di Gaza sejak Oktober 2023 yang telah menewaskan lebih dari 72 ribu orang, melukai lebih dari 172 ribu lainnya, serta menyebabkan kehancuran besar di wilayah tersebut.
Baca juga: Dua Eks PM Israel Bersatu untuk Lengserkan Netanyahu di Pemilu Mendatang