Ekonomi Jepang Cuma Tumbuh 1,1% di Kuartal II, Jauh di Bawah Perkiraan

Ilustrasi, orang-orang berjalan melewati penyeberangan di Tokyo, Jepang. Foto: Xinhua/Zhang Xiaoyu.

Ekonomi Jepang Cuma Tumbuh 1,1% di Kuartal II, Jauh di Bawah Perkiraan

Husen Miftahudin • 17 August 2026 13:07

Tokyo: Pertumbuhan ekonomi Jepang melambat pada kuartal II-2026, karena belanja swasta yang stagnan dan penurunan belanja modal. Kondisi tersebut mengimbangi dukungan dari ekspor yang masih tumbuh.

Berdasarkan data pemerintah Jepang yang dikutip dari Investing.com, Senin, 17 Agustus 2026, produk domestik bruto (PDB) Jepang pada periode April-Juni 2026 tumbuh 1,1 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2 persen dan melambat dari 1,9 persen pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi Jepang tumbuh 0,3 persen, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 0,5 persen.

Penurunan belanja modal menjadi salah satu faktor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi Jepang. Belanja modal turun 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Tingginya biaya input serta gangguan rantai pasokan akibat konflik di Asia Barat turut memengaruhi aktivitas bisnis.

Analis Capital Economics memperkirakan ekonomi Jepang masih dapat tumbuh pada sisa 2026. Perkiraan tersebut mempertimbangkan langkah pemerintah Tokyo dalam mengurangi dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian.

Konsumsi swasta yang menjadi bagian penting dalam perhitungan PDB tercatat stagnan pada kuartal II-2026. Hasil tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan konsumsi tumbuh 0,5 persen.

Data tersebut menunjukkan permintaan domestik Jepang masih menghadapi tekanan. Pelemahan pengeluaran swasta menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal II.
 



(Ilustrasi ekonomi Jepang. Foto: Freepik)
 

Ekspor jadi penopang ekonomi


Di tengah lemahnya permintaan domestik, sektor eksternal menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Jepang. Permintaan eksternal meningkat 0,5 persen pada kuartal II, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,3 persen.

Ekspor Jepang tetap kuat sepanjang periode tersebut, didukung permintaan luar negeri terhadap kendaraan dan produk elektronik. Namun, kontribusi ekspor belum cukup untuk mengimbangi lemahnya konsumsi swasta dan penurunan investasi bisnis.

Adapun, perlambatan ekonomi terjadi ketika tekanan inflasi Jepang masih cukup tinggi. Kenaikan biaya energi dan pelemahan nilai tukar yen turut memengaruhi perkembangan harga.

Indeks harga PDB tumbuh 2,6 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,3 persen, meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan 3,2 persen pada kuartal sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih menjadi perhatian di tengah perlambatan aktivitas ekonomi.

(Husen Miftahudin)