Airlangga: ETF Emas Perkuat Posisi Indonesia di Investasi Global

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian.

Airlangga: ETF Emas Perkuat Posisi Indonesia di Investasi Global

Husen Miftahudin • 11 August 2026 15:55

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pengembangan Exchange Traded Fund (ETF) Emas dapat memperkuat posisi Indonesia dalam investasi emas global. Instrumen tersebut juga dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Airlangga mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem investasi emas nasional, termasuk melalui ETF Emas yang telah diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Jadi ETF Emas juga menjadi hal yang fundamental yang diluncurkan oleh OJK. Dan ini tentu kita berharap emas itu kita mulai dari hulu sampai hilir sebetulnya kuat," kata Airlangga saat menghadiri Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 11 Agustus 2026.

Airlangga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri dan investasi emas secara berkelanjutan. Menurut dia, penguatan sektor tersebut perlu dilakukan mulai dari hulu hingga hilir.

Sektor hulu mencakup industri pertambangan emas, sedangkan sektor hilir mencakup pemanfaatan emas oleh masyarakat, baik sebagai perhiasan maupun instrumen investasi jangka panjang.

Pemerintah berharap penguatan seluruh rantai industri dapat mendorong perkembangan sektor emas secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan potensi investasi di dalam negeri.
 

 

Kepemilikan emas Pegadaian capai 153 ton


Airlangga mengungkapkan perkembangan kepemilikan emas setelah pemerintah meluncurkan bullion atau bank emas. Saat awal peluncuran, Pegadaian mengelola sekitar 70 ton emas. Jumlah tersebut kini meningkat menjadi sekitar 153 ton emas.

Menurut Airlangga, kepemilikan emas tersebut memiliki nilai sekitar USD20 miliar. Angka tersebut dinilai menunjukkan besarnya potensi pengembangan investasi emas di Indonesia.

"153 ton emas itu nilainya sekitar USD20 miliar. Sedangkan ETF di India itu baru USD17 miliar sampai USD18 miliar. Jadi ini potensi kita untuk mengalahkan berbagai negara, termasuk kalau sebelumnya Singapura masih unggul, sekarang dengan adanya bullion bank, mereka sudah lewat," tukas dia.


(Ilustrasi, emas batangan. Foto: sempsajp.com)
 

Perkuat daya saing


Airlangga membandingkan nilai kepemilikan emas Indonesia dengan ETF emas di India yang disebut berada pada kisaran USD17 miliar hingga USD18 miliar.

Menurut dia, kondisi tersebut memperlihatkan peluang Indonesia untuk memperkuat daya saing di sektor investasi emas. Ia juga menyebut Indonesia telah melampaui Singapura setelah kehadiran bank emas.

Penguatan ekosistem emas tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran Indonesia dalam rantai industri sekaligus investasi emas di kawasan.

Airlangga mengatakan emas tetap memiliki daya tarik sebagai instrumen investasi, terutama ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Emas dinilai memiliki fungsi sebagai aset aman atau safe haven.

"Jadi ini adalah hal yang baik yang dilakukan oleh Indonesia, apalagi dalam situasi ketidakpastian ini untuk emas selalu menjadi safe haven dari pada investasi," kata Airlangga.

Ia menambahkan masyarakat juga semakin memahami pemanfaatan emas sebagai instrumen investasi, salah satunya melalui layanan yang disediakan Pegadaian.

Pengembangan ETF Emas dan penguatan industri emas dari hulu hingga hilir menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbesar potensi investasi emas nasional.

(Husen Miftahudin)