Rupiah Ditutup ke Rp17.694/USD Selasa Sore

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah

Rupiah Ditutup ke Rp17.694/USD Selasa Sore

Eko Nordiansyah • 15 September 2026 16:47

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Pelemahan rupiah dipengaruhi konflik geopolitik di Asia Barat.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 15 September, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.694 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 25 poin atau setara 0,14 persen dari posisi Rp17.669 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.685 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 55 poin atau setara 0,31 persen dari Rp17.630 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.687 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan dengan perdagangan pada pekan sebelumnya yang di level Rp17.635 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Dampak konflik geopolitik di Timur Tengah

Dikutip dari Antara, analis mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan, kelompok Houthi (Ansarullah) di Yaman melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin (14 September 2026), sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah.

Lebih lanjut, posisi-posisi tersebut juga dianggap memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan sekitar.

Setelah Ansarullah Yaman melumpuhkan operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) milik Riyadh pada pekan lalu, para analis memperkirakan bahwa perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4-5 persen dari pasokan global.

Sentimen lain berasal dari penundaan pembicaraan mengenai Selat Hormuz antara Iran dengan AS. Begitu pula penundaan pertemuan antara Oman, Iran, dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi," ungkap Ibrahim.

Kenaikan angka Consumer Price Index (CPI) AS bulan Agustus 2026 turut memberikan sentimen terhadap rupiah, menimbang pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 89 persen untuk kenaikan suku bunga, naik dari sekitar 59,4 persen pada pekan sebelumnya.

(Eko Nordiansyah)