Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com
Tren Bullish Harga Emas Makin Tak Terbendung
Husen Miftahudin • 15 January 2026 10:34
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menunjukkan kekuatannya pada perdagangan pertengahan pekan ini, seiring emas berhasil berbalik arah dan mencatat kenaikan yang solid pada Rabu, 14 Januari 2026. Logam mulia diperdagangkan di kisaran USD4.615 per troy ons, naik sekitar 0,65 persen, didukung oleh pelemahan dolar AS secara luas dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven.
"Kenaikan ini terjadi meskipun data inflasi Amerika Serikat masih memberi alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam waktu dekat, menciptakan tarik-menarik antara faktor moneter dan sentimen risiko global," ungkap analisis Dupoin Futures Andy Nugraha, dikutip dari analisa harian, Kamis, 15 Januari 2026.
Menurut dia, struktur teknikal emas saat ini berada dalam kondisi yang sangat konstruktif. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada emas semakin menguat. Harga emas mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan kunci, yang menandakan dominasi pembeli masih sangat kuat.
Dalam proyeksi jangka pendeknya, Andy menilai jika tekanan bullish tetap terjaga, emas berpotensi melanjutkan reli menuju area USD4.650. Level ini menjadi target lanjutan yang merefleksikan kelanjutan momentum naik setelah harga mendekati rekor tertingginya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pasar yang bergerak di dekat puncak historis cenderung rentan terhadap aksi ambil untung. Jika harga gagal mempertahankan momentumnya dan mulai terkoreksi, maka zona USD4.565 dipandang sebagai area support terdekat yang dapat menahan tekanan jual.
| Baca juga: Sempat Tergelincir, Harga Emas Melonjak Lagi hingga Cetak Rekor Tertinggi Baru |
Didukung ketidakpastian geopolitik
Dari sisi fundamental, kenaikan emas mendapat dukungan kuat dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan atas penindasan keras terhadap para demonstran di Iran.
AS dilaporkan memindahkan staf militernya, sementara pemerintah Iran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak membantu serangan apa pun. Trump bahkan membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menjanjikan 'bantuan' kepada para demonstran, sebuah pernyataan yang memicu spekulasi luas di pasar.
"Lingkungan seperti ini biasanya mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset safe-haven seperti emas," terang Andy.
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve turut menambah daya tarik emas. Ketua Fed Jerome Powell mengungkapkan bank sentral telah menerima surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS terkait kesaksiannya mengenai pembengkakan biaya proyek renovasi gedung Fed di Washington.
Powell menyebut langkah tersebut sebagai dalih untuk menekan Fed agar memangkas suku bunga. Isu ini mengguncang kepercayaan terhadap stabilitas kebijakan moneter dan memicu arus dana keluar dari aset berisiko menuju emas.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Data ekonomi AS beragam
Di sisi lain, data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam. Tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,4 persen pada Desember, sementara harga produsen dan penjualan ritel menunjukkan peningkatan, yang memperkuat ekspektasi Fed dapat mempertahankan suku bunga lebih lama.
"Kondisi ini secara teori dapat membebani emas, karena suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil," sebut Andy.
Namun, pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS justru menjadi penopang utama. Indeks Dolar AS turun ke sekitar 99,15, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun melemah ke kisaran 4,14 persen, membuat emas menjadi relatif lebih menarik.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Andy melihat bias pasar terhadap emas masih cenderung positif. "Selama dolar AS tetap tertekan dan risiko geopolitik belum mereda, emas berpotensi tetap berada dalam jalur bullish, dengan peluang menguji kembali bahkan melampaui level tertinggi sebelumnya dalam waktu dekat," ucap dia.