Ilustrasi freepik
Dampak terhadap Anak yang Menyaksikan KDRT, Simak Penjelasan Pakar
Putri Purnama Sari • 15 July 2026 09:24
Jakarta: Banyak orang menganggap anak baru akan mengalami trauma apabila menjadi korban langsung kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Menurut Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, anak yang hanya melihat atau mendengar peristiwa kekerasan di rumah juga berisiko mengalami gangguan pada perkembangan otaknya.
Paparan kekerasan yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi kesehatan mental hingga cara anak membangun hubungan dengan orang lain di masa depan.
Anak yang Menyaksikan KDRT Tetap Bisa Mengalami Trauma
Efnie menjelaskan, dari sudut pandang bio-neuropsikologi, otak anak akan menangkap lingkungan tempat ia tumbuh sebagai tempat yang tidak aman apabila terus-menerus menyaksikan kekerasan, baik fisik, verbal, maupun emosional.
Saat kondisi tersebut terjadi, tubuh anak akan mengaktifkan sistem respons stres dengan melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin.
Apabila situasi ini berlangsung dalam waktu lama tanpa perlindungan maupun pendampingan yang memadai, respons stres yang seharusnya bersifat sementara dapat berubah menjadi kronis.
"Ketika anak berulang kali melihat atau mendengar kekerasan baik fisik, verbal, maupun emosional, otaknya akan belajar bahwa dunia di sekitarnya adalah tempat yang tidak aman," ujar Efnie kepada Metrotvnews.com, Rabu, 15 Juli 2026.
Dampak KDRT terhadap Perkembangan Otak Anak
Respons stres yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu perkembangan berbagai fungsi penting otak anak, seperti:
- kemampuan berkonsentrasi;
- daya ingat;
- kemampuan mengendalikan emosi;
- kemampuan memecahkan masalah;
- keterampilan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Akibatnya, dampak yang muncul pada setiap anak bisa berbeda-beda.
Gejala Anak yang Terpapar Kekerasan di Rumah
Menurut Efnie, tidak semua anak menunjukkan respons yang sama setelah menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga.
Sebagian anak mungkin menjadi lebih agresif karena meniru pola yang sering dilihatnya. Namun, ada pula yang justru mengalami gangguan emosional seperti:
- mudah cemas dan ketakutan;
- menarik diri dari lingkungan sosial;
- sulit mempercayai orang lain;
- kehilangan rasa percaya diri;
- mengalami gangguan tidur;
- sering mengeluhkan sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas;
- prestasi belajar di sekolah menurun.
Kondisi tersebut muncul karena otak anak terus berada dalam keadaan siaga menghadapi ancaman, meskipun sebenarnya tidak selalu berada dalam situasi berbahaya.
Mengapa Anak Bisa Menganggap Kekerasan Sebagai Hal Normal?
Efnie menjelaskan bahwa otak anak berkembang berdasarkan pengalaman yang dialami setiap hari.
"Jika setiap hari yang ia saksikan adalah kemarahan, ancaman, atau kekerasan, maka otak dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal," tambahnya.
Akibatnya, ketika tumbuh dewasa, anak berisiko mengalami kesulitan mengendalikan emosi, membangun hubungan yang sehat, hingga menyelesaikan konflik secara positif apabila tidak mendapatkan bantuan yang tepat sejak dini.
Kabar Baiknya, Otak Anak Masih Bisa Pulih
Meski demikian, Efnie menegaskan bahwa masih ada harapan bagi anak-anak yang pernah terpapar KDRT.
Otak manusia memiliki kemampuan neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk koneksi baru dan beradaptasi terhadap pengalaman yang lebih positif.
Dengan lingkungan yang aman, hubungan yang suportif, pengasuhan penuh kasih sayang, serta pendampingan psikologis yang tepat, banyak anak mampu pulih dan kembali berkembang secara optimal.
"Kekerasan mungkin terjadi dalam hitungan menit, tetapi jejak biologisnya dapat bertahan bertahun-tahun jika tidak ditangani. Sebaliknya, kasih sayang yang konsisten juga mampu membentuk kembali otak menuju proses pemulihan," jelas Efnie.
Karena itu, melindungi anak dari kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya menjaga masa kecil mereka, tetapi juga berperan penting dalam melindungi perkembangan otak, kesehatan mental, serta kualitas hidupnya di masa depan.