Dewan Redaksi Media Group, Jaka Budi Santosa. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Manzelat-e Iran
Media Indonesia • 5 March 2026 05:45
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat. Keyakinan satu kepala dipenggal lalu tubuh akan rubuh. Keyakinan tentang bangsa yang akan tiarap hanya karena tanah mereka dihujani bom.
Keyakinan itulah yang kiranya ada dalam diri Amerika Serikat dan Israel ketika menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Dalam serangan tanpa persetujuan Kongres Amerika itu, kedua negara pamer kehebatan. Tak kurang dari 30 bom dijatuhkan ke kantor dan kediaman Ayatullah Ali Khameini. Pemimpin tertinggi Iran itu gugur bersama beberapa anggota keluarga. Sejumlah tokoh penting lainnya juga wafat.
Decapitation strike atau serangan pemenggalan. Itulah strategi AS dan Israel. Dengan membunuh pemimpin tertinggi Ali Khameini, mereka percaya akan tercipta kekacauan internal Iran. Logikanya sederhana; tubuh akan ambruk karena tak lagi punya kepala. Rantai komando berantakan, para serdadu kehilangan arah. Namun, sejarah sering kali menertawakan keyakinan yang berlebihan. Realitas kerap mementahkan kesederhanaan yang congkak. Keyakinan berlebihan tak jarang menjelma menjadi ilusi.
Kematian Khameini ialah api pengobar semangat bagi Iran untuk menjaga harga diri. Serangan balasan besar-besaran terus mereka lancarkan. Tidak cuma dengan letupan senapan. Pangkalan militer dan aset-aset Amerika di negara-negara tetangga yang selama ini mengepung Iran dihancurkan dengan rudal dan drone kamikaze. Kerusakannya signifikan. Bom kematian juga bergentayangan di Israel. Sejumlah tempat strategis negara Zionis itu luluh lantak.
Amerika barangkali terkaget-kaget. Presiden Donald Trump boleh jadi terkejut badan. Selama beberapa dekade, reputasi mereka sebagai negara adikuasa jarang ditantang secara terbuka. Banyak rezim cepat tumbang sebelum sempat mengangkat tangan. Tak sedikit negara memilih menyerah sebelum peluru kedua ditembakkan. Namun, Iran lain daripada yang lain.
Iran ialah bangsa dengan memori panjang tentang invasi, embargo, isolasi. Dari perang melawan Irak yang didukung Amerika pada 1980-an hingga sanksi ekonomi bertahun-tahun yang juga dimotori Amerika, Iran terbiasa dalam tekanan.
Taktik penggal kepala mungkin efektif di negeri yang institusinya rapuh. Namun, di Iran, kepemimpinan bukan sekadar figur. Ia dibingkai sebagai simbol perlawanan. Ketika simbol itu diusik, diserang, dimatikan, yang bangkit bukan kepanikan, melainkan solidaritas dan semangat untuk melawan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Foto: EPA/Khamenei Official Website.
Dalam banyak pidatonya, Khamenei kerap menegaskan, ''Bangsa Iran tidak akan pernah tunduk pada intimidasi.'' Jauh sebelumnya, pendiri Republik Islam Iran Ayatullah Imam Sayyid Ruhullah Musavi Khomeini pernah bilang, ''Kami tidak takut pada kekuatan mana pun selain Tuhan.'' Ini sebuah fondasi ideologis bahwa perlawanan ialah bagian dari identitas.
Jangan lupakan pula sejarah Persia sebagai nenek moyang bangsa Iran. Selama ribuan tahun, mereka akrab dengan agresi asing. Mulai invasi Alexander Agung pada 334-330 sebelum Masehi, gelombang Arab di abad ke-7, hingga serbuan Mongol di abad ke-13. Namun, Persia tak pernah lenyap. Mereka selalu bangkit, kembali eksis seperti yang ditunjukkan Iran saat ini.
Keyakinan Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran akan cepat takluk kiranya harus disimpan dulu di kantong terdalam. Persenjataan mereka boleh unggul jauh. Namun, faktanya, di palagan, Iran tak kalah-kalah amat. Meski puluhan tahun diembargo dan diisolasi, Iran tetap mampu unjuk kekuatan yang menakutkan hingga hari kelima perang. Dengan rudal-rudal, dengan drone-drone yang mematikan.
Iran memang sendirian. Paling dibantu proksi-proksi mereka seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Libanon, atau milisi di Irak. Bandingkan dengan Amerika yang bersekutu dengan Israel. Belum lagi dukungan dari sejumlah negara Barat, termasuk Inggris yang belakangan mengizinkan penggunaan aset mereka untuk pesawat-pesawat Amerika. Namun, Iran tak kenal kata takut. Yang membela Amerika masuk daftar pembalasan. Siapa pun dia. Terkini, pangkalan udara Inggris di Siprus yang berjarak hampir 2.000 km tak luput dari serangan drone Shahed. Kata Trump, perang melawan Iran bisa berlangsung sebulan. Benarkah? Kita tunggu saja kenyataannya. Yang pasti, bagi Amerika, situasi ini lebih dari sekadar konflik militer. Ini soal harga diri. Negara adidaya dengan segudang kelebihan dan arogansi yang jarang mendapat perlawanan terbuka kini menghadapi negara yang tak punya rasa gentar meski dihujani sanksi dan rudal.
Jika Iran tetap berdiri, narasi tentang dominasi absolut, hegemoni mutlak milik Amerika akan retak. Itu tentu aib buat Trump yang suka semaunya memperlakukan dunia, juga aib untuk Amerika. Sebaliknya bagi Iran, sejarah bahwa bangsa yang terbiasa diserang akan mengembangkan antibodi sekali lagi mereka buktikan.
Dalam perang simetris, mungkin Iran akan kehabisan napas. Namun, setidaknya mereka sudah unjuk diri sebagai bangsa yang tak gampang tunduk pada agresi bangsa lain. Manzelat (bahasa Farsi yang berarti martabat) mereka tetap tegak. Klop dengan prinsip bangsa Persia; Marg istadeh behtar az zendegi zanoo zadeh ast. Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.
(Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa)