Khamenei dan pemimpin militer Iran, termasuk Artesh dan IRGC. (Istimewa)
Gugurnya Khamenei Bangkitkan Nasionalisme Iran, Ini Penjelasan Pakar
Muhamad Marup • 5 March 2026 17:46
Jakarta: Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei gugur dalam serangan Amerika Serikat-Israel di Teheran pada 28 Februari 2026. Di tengah konflik yang semakin memanas, gugurnya Khamenei dinilai bisa meningkatkan nasionalisme rakyat Iran.
Pakar Studi Antaragama dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dicky Sofjan, mengatakan, gugurnya Khamenei merupakan cerminan sejarah dan memori kolektif rakyat Iran, terutama muslim Syiah Iran. Menurutnya, kondisi tersebut akan menjadi alat yang ampuh untuk mobilisasi sosial keagamaan dan politik.
Dia menambahkan kondisi tersebut tidak hanya memicu nasionalisme Iran. Menurutnya, gambaran tersebut secara kemungkinan besar akan membangkitkan sentimen yang mendalam di hati dan pikiran jutaan Muslim Syiah dan Sunni di luar Iran.
Dalam keterangannya, Dicky mengungkapkan beberapa poin gugurnya Khamenei sebagai simbol kebangkitan rakyat Iran. Berikut poin-poinnya:
Memori Kolektif Muslim Syiah
Dicky menjelaskan ada yang tidak dipahami kubu AS-Israel terkait memori kolektif muslim Syiah Iran. Secara umum, kata dia, sejak kecil Muslim Syiah selalu diingatkan soal penganiayaan, ketidakadilan, dan perlawanan.
"Muslim Syiah secara intrinsik terbiasa dengan oposisi dan perlawanan terhadap kekuasaan yang ada. Menurut saya, konstelasi politik saat ini di Timur Tengah mencerminkan persis gambaran ini," terangnya.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: EFE
Jihad Defensif dan Jihad Ofensif
Dicky juga menjelaskan, narasi terkait jihad dapat memengaruhi pergerakan rakyat Iran, terlebih atas kematian Khamenei. Menurutnya, Iran menerapkan prinsip Islam bahwa tidak ada Muslim yang boleh menjadi agresor, dan bahwa jihad ofensif tidak diperbolehkan oleh Islam.
Sebaliknya, jihad defensif adalah wajib. Artinya, jika suatu negara diserang, adalah kewajiban pemerintah dan seluruh warganya untuk mempertahankannya, bahkan jika itu akan mengorbankan nyawa mereka.
"Oleh karena itu, rakyat Iran memiliki hak penuh untuk membela diri dari segala bentuk agresi dari pihak eksternal," katanya.
Proyek Kolonisasi
Dicky menilai erat kaitannya dengan proyek kolonial pemukim Zionis, yang bercita-cita untuk menciptakan "Israel Raya". Cita-cita tersebut untuk memperluas perbatasannya untuk mencakup seluruh "Wilayah Pendudukan" Palestina, Mesir, Suriah, Lebanon, Yordania, dan Arab Saudi.
"kita perlu melihat gambaran yang lebih besar dari serangan Israel dan AS ini sebagai bagian dari pola perilaku bermusuhan yang menggabungkan kekuatan brutal kolonialisme, kapitalisme, dan supremasi kulit putih, semuanya dalam satu paket," tuturnya.