DBS Kucurkan USD2,7 juta Benahi Nutrisi dan Pendidikan di NTT

Kolaborasi UNICEF Indonesia dan DBS Foundation untuk kemajuan pendidikan di NTT. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda.

DBS Kucurkan USD2,7 juta Benahi Nutrisi dan Pendidikan di NTT

Husen Miftahudin • 26 February 2026 10:29

Jakarta: UNICEF Indonesia dan DBS Foundation resmi meluncurkan kemitraan strategis berdurasi dua tahun untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui komitmen pendanaan sebesar SGD3,51 juta atau setara dengan USD2,7 juta, kolaborasi ini difokuskan pada penguatan sistem pendidikan dan pemenuhan gizi anak untuk usia 4 hingga 12 tahun.

Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia Mona Monika menjelaskan, program ini menargetkan sedikitnya 5.270 penerima manfaat langsung yang mencakup siswa, orang tua, pengasuh, hingga tenaga pendidik. Tujuan utama kerja sama ini bukan hanya memberikan bantuan jangka pendek, melainkan membangun sistem yang memutus rantai ketidakberuntungan bagi anak-anak di wilayah rentan.

"Hari ini kita meluncurkan program baru bersama UNICEF di tahun 2026. Kita memilih bermitra dengan UNICEF, untuk bisa memberikan dampak positif terhadap 5.000 beneficiaries, dimana di dalam 5.000 itu ada anak-anak, orang tua, hingga tenaga pendidik,” ungkap Mona di Artotel Mangkuluhur, dikutip Kamis, 26 Februari 2026.

Ia mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada anak-anak, melainkan guru dan kepala sekolah yang akan dilatih serta dibekali paket pembelajaran anak usia dini untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi.
 

Baca juga: UNICEF: 200 Juta Anak di 130 Negara Butuh Bantuan Kemanusiaan pada 2026


(Kolaborasi UNICEF Indonesia dan DBS Foundation untuk kemajuan pendidikan di NTT. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda)
 

Ciptakan ekosistem pendidikan yang tangguh


Senada dengan hal tersebut, Chief of Education UNICEF Katheryn Bennett mengatakan anak-anak di NTT memerlukan pendekatan yang terintegrasi antara pendidikan dan kesehatan gizi. Data menunjukkan hanya 34 persen anak-anak di NTT yang bersekolah PAUD.

"Hanya 34 persen anak-anak yang terlibat dalam pendidikan anak usia dini di NTT. Artinya ada lubang sebesar 66 persen yang harus kita tutup bersama melalui kemitraan ini," ujar Katheryn.

Ia menambahkan, hampir setengah dari siswa di NTT belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi. Kondisi ini bahkan turut diperparah dengan status gizi anak-anak di NTT yang mencatatkan angka prevalensi stunting sebesar 37 persen dan kurang gizi akut 15,9 persen.

"Prevalensi stunting berada di angka 37 persen dan wasting sebesar 15,9 persen. Keduanya diklasifikasikan sebagai sangat tinggi menurut ambang batas WHO," ungkap dia.

Melalui kolaborasi ini, Katheryn berharap tindakan yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek di dalam kelas, tetapi  memperkuat kapasitas orang tua dalam mendukung pemberian makanan sehat dan menciptakan ekosistem pendidikan yang tangguh. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)