Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Bertekad Gempur Iran dengan 'Kekuatan Penuh' Sambil Tetap Buka Pintu Dialog
Willy Haryono • 2 March 2026 07:39
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji akan terus melanjutkan serangan militer terhadap Iran dengan “kekuatan penuh," namun juga masih membuka pintu dialog dengan kepemimpinan yang tersisa di negara tersebut.
Dalam video berdurasi enam menit yang diunggah di platform Truth Social pada 1 Maret, Trump mengatakan operasi militer yang dinamai Operation Epic Fury merupakan salah satu operasi ofensif terbesar yang pernah dilakukan.
“Operasi tempur di Iran terus berlangsung dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut sampai semua tujuan kami tercapai,” kata Trump, dikutip dari Radio Free Europe Radio Liberty, Senin, 2 Maret 2026.
Ia juga mengakui kematian tiga tentara AS dalam konflik tersebut dan bersumpah akan membalasnya. “Kami berduka atas para pahlawan Amerika sejati yang telah mengorbankan nyawa mereka, bahkan saat kami melanjutkan misi,” ujarnya.
Trump juga memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan.
Ultimatum kepada Iran
Trump memberikan peringatan keras kepada pimpinan militer Iran, termasuk Garda Revolusi Iran. Ia meminta mereka untuk menyerah dan menjanjikan kekebalan, atau menghadapi konsekuensi fatal.Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka. “Ambil kembali negara Anda. Amerika bersama Anda,” seru Trump.
Trump juga menyinggung kembali soal kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mengatakan struktur komando militer Iran telah hancur.
Konflik Diperkirakan Berlangsung Empat Pekan
Dalam wawancara dengan The Daily Mail, Trump mengatakan konflik dengan Iran diperkirakan berlangsung sekitar empat pekan. “Iran adalah negara besar, tetapi ini bisa selesai dalam empat pekan atau kurang,” katanya.Meski demikian, Trump mengatakan pintu negosiasi tetap terbuka. Ia mengatakan kepemimpinan baru Iran masih memiliki kesempatan untuk berunding dengan Amerika Serikat.
Sebelum konflik pecah, Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman terkait program nuklir Iran. Menteri Luar Negeri Oman sebelumnya mengatakan pembicaraan tersebut menunjukkan kemajuan signifikan.
Namun, Trump mengatakan ia memutuskan melancarkan serangan setelah menilai Iran tidak berniat membatasi program nuklirnya dan justru bersiap menggunakan kekuatan militernya.
Baca juga: Tiga Tentara AS Tewas dan Lima Terluka dalam Serangan Balasan Iran