Harga Minyak Dunia Tergelincir setelah Menguat Tiga Hari Berturut-turut

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Harga Minyak Dunia Tergelincir setelah Menguat Tiga Hari Berturut-turut

Husen Miftahudin • 3 September 2026 08:28

Houston: Harga minyak dunia turun tipis dalam perdagangan Asia pada Kamis setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut. Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan kampanye militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Pasar juga merespons indikasi peningkatan kembali arus energi melalui Selat Hormuz.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 3 September 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November turun 0,4 persen menjadi USD95,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka melemah 0,2 persen menjadi USD90,80 per barel. Kedua kontrak sebelumnya menguat hampir satu persen pada Rabu dan mencapai level tertinggi dalam lima minggu.
 
Kenaikan harga minyak dalam beberapa sesi sebelumnya dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat meningkatnya konfrontasi militer antara AS dan Iran.
 
Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran merespons dengan menyerang sejumlah posisi AS di kawasan tersebut. Bentrokan itu menjadi salah satu eskalasi militer paling intens antara kedua negara sejak Juli.
 
Namun, Trump pada Rabu mengatakan kampanye militer terbaru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam waktu lama. Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dalam waktu dekat.
 
Trump juga menyampaikan AS telah menargetkan radar Iran, sistem rudal, serta kemampuan yang berkaitan dengan pemasangan ranjau di sekitar Selat Hormuz.
 



(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Arus minyak di Selat Hormuz meningkat

 
Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pelaku pasar minyak. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 17 juta barel minyak mentah melewati jalur perairan tersebut pada Senin. Volume itu menjadi yang tertinggi sejak konflik menyebabkan arus minyak melalui selat tersebut turun secara signifikan.
 
Meski arus energi mulai meningkat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berfluktuasi. Data awal Kpler menunjukkan hanya empat kapal komoditas melintasi selat tersebut pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak sekitar 13 kapal.
 
Sentimen positif juga datang dari data persediaan minyak mentah AS. Stok minyak mentah komersial AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam lima minggu dan berlawanan dengan perkiraan analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan tipis.
 
Sementara itu, data persediaan produk minyak menunjukkan pergerakan beragam. Stok bensin turun 1,2 juta barel, sedangkan persediaan produk distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, meningkat sekitar 800 ribu barel.
 
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+). Kelompok tersebut diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober tanpa perubahan dalam pertemuan pada Minggu.
 
OPEC+ sebelumnya menyelesaikan pengurangan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari sesuai jadwal. Kelompok produsen minyak tersebut juga telah menaikkan kuota produksi September sebesar 188 ribu barel per hari.

(Husen Miftahudin)