Harga Emas Naik Tipis ke USD4.358

Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti

Harga Emas Naik Tipis ke USD4.358

Eko Nordiansyah • 23 September 2026 08:26

Chicago: Harga emas mencatat kenaikan tipis pada Selasa, 22 September 2026. Kenaikan ini karena penurunan harga minyak selama lima sesi berturut-turut membantu mengimbangi dampak dolar Amerika Serikat (AS) yang berada di level tertinggi dalam hampir delapan minggu.

Dikutip dari Investing, Rabu, 23 September 2026, harga emas spot naik tipis 0,3 persen dan ditutup pada level USD4.358,58 per ons. Sementara emas berjangka juga naik 0,3 persen dan ditutup pada USD4.396,20 per ons.

Dolar AS mempertahankan momentum

Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat memutuskan untuk menaikkan suku bunga federal funds menjadi 3,75-4,00 persen dari sebelumnya 3,50-3,75 persen pada Rabu pekan lalu.

Selain itu, pembaruan Summary of Economic Projections (Ringkasan Proyeksi Ekonomi) The Fed menunjukkan setidaknya 12 anggota FOMC memperkirakan adanya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini. Sementara konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, setelah keputusan tersebut menunjukkan sikap yang jelas hawkish (cenderung mendukung pengetatan kebijakan moneter).

Lingkungan suku bunga tinggi cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas. Suku bunga tinggi juga cenderung memperkuat dolar, yang pada gilirannya dapat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli asing. Mata uang dolar AS telah menguat hampir satu persen sejak kenaikan suku bunga The Fed tersebut.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, pada Selasa menegaskan kembali dukungannya terhadap langkah FOMC. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia mengatakan tekanan harga yang tinggi menuntut sikap kebijakan yang lebih restriktif demi mencapai stabilitas harga jangka panjang.

Menurutnya, indikator ekonomi terkini menunjukkan peningkatan kemungkinan skenario di masa depan di mana inflasi tetap berada jauh di atas dua persen setelah lebih dari lima tahun mengalami kenaikan biaya.

Secara terpisah, Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, juga mendukung kenaikan suku bunga FOMC dan menyatakan bahwa risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja maksimal.

Tren penurunan harga minyak

Kenaikan suku bunga bank sentral akibat tekanan harga yang dipicu oleh energi telah menjadi tema utama bulan ini, di mana Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan juga memperketat kebijakan moneter. Di tengah situasi ini, penurunan harga minyak yang berkelanjutan baru-baru ini telah menarik perhatian para pelaku pasar logam mulia.

Harga acuan minyak mentah telah turun selama lima sesi berturut-turut di tengah meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan dan harapan adanya kemajuan diplomatik di Timur Tengah. Para pedagang merasa lega dengan langkah tegas Arab Saudi untuk mengimbangi penutupan jalur pipa vital yang rusak akibat konflik yang meluas dengan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Kemungkinan pertemuan antara Presiden Donald Trump dan delegasi Iran pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) minggu ini juga turut memperbaiki sentimen pasar.

Dalam pidatonya di PBB pada Selasa, Trump menyatakan keyakinannya, kesepakatan antara Washington dan Teheran akan tercapai setelah pemilihan umum sela AS yang akan berlangsung pada November.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, turun 1,8 persen dan ditutup pada level USD98,56 per barel pada Selasa.

(Eko Nordiansyah)