Perpustakaan Jakarta Perkuat Posisi Sebagai Ruang Publik Inklusif

Masyarakat mengikuti kegiatan di Night at the Library dalam rangkaian HUT ke-4 Perpustakaan Jakarta yang diperingati pada 7 Juli 2026 pada Jumat, 18 Juli 2026. Foto: Antara.

Perpustakaan Jakarta Perkuat Posisi Sebagai Ruang Publik Inklusif

Anggi Tondi Martaon • 18 July 2026 15:43

Jakarta: Perpustakaan Jakarta terus memperkuat posisinya sebagai ruang publik inklusif bagi masyarakat. Hal itu tercermin dari tingginya minat warga di gelaran Night at the Library (NATL) dalam Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Perpustakaan Jakarta yang digelar di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat malam, 18 Juli 2026..

“Ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Perpustakaan kini tak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono dikutip dari Antara, Sabtu, 18 Juli 2026.

Ia berharap Perpustakaan Jakarta dapat menjadi inovasi layanan yang menghadirkan perpustakaan sebagai ruang ketiga (third place) bagi masyarakat Jakarta.

Ia mengatakan HUT ke-4 Perpustakaan Jakarta yang diperingati pada 7 Juli 2026 bertepatan dengan peluncuran Perpustakaan Jakarta di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang. Fasilitas tersebut diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Nasruddin menilai kehadiran perpustakaan baru tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang bahkan mampu menarik sekitar 1.000 pengunjung setiap hari.

Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Jakarta terus meningkat, kata Nasrudin.

Ia menambahkan hal ini juga terlihat pada penyelenggaraan Night at the Library. Seluruh kuota peserta sebanyak 800 orang langsung habis hanya sesaat setelah pendaftaran dibuka.

Data Dispusip DKI Jakarta mencatat, sepanjang Semester I 2026, Perpustakaan Jakarta menerima 320.352 kunjungan atau rata-rata sekitar 13 ribu pengunjung setiap pekan. Sementara sejak kembali dibuka hingga memasuki usia empat tahun, total kunjungan telah mencapai sekitar 1,96 juta orang.
class=big_center
Ilustrasi perpustakaan. Foto: Istimewa.

Angka ini menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring, ungkap Nasrudin.

Ia menambahkan penguatan budaya literasi menjadi bagian penting dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui ruang-ruang literasi yang terbuka dan inklusif.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Diki Lukman Hakim mengatakan transformasi layanan perpustakaan bertujuan memperkuat perannya sebagai ruang ketiga yang nyaman bagi masyarakat. 

Kami berharap transformasi layanan ini dapat memantapkan peran Perpustakaan Jakarta sebagai ruang ketiga tempat interaksi sosial yang inklusif, nyaman, dan hidup di luar rumah serta tempat kerja, ungkap Jassin.

Sementara Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim mengapresiasi inovasi layanan yang terus dilakukan Dispusip DKI. Menurut dia, perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas.

Ia menambahkan literasi saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun, juga kemampuan memahami informasi, mengembangkan keterampilan, serta membangun daya saing.

”Kami berharap, program seperti Night at the Library terus digelar agar Perpustakaan Jakarta semakin menjadi pusat literasi, kreativitas, pengembangan sumber daya manusia, sekaligus ruang kolaborasi yang memperkuat interaksi sosial masyarakat Jakarta,” kata Ali.

(Anggi Tondi)