Rumah Karyo Utomo, bangunan saksi sejarah tempat Gerilya TB Simatupang. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Menilik Nasib Rumah Joglo Saksi Perjuangan Kemerdekaan di Samigaluh Kulon Progo
Ahmad Mustaqim • 1 April 2026 08:53
Kulon Progo: Sebuah bangunan Joglo berdiri di kawasan hutan Perbukitan Menoreh Dusun Kaliwunglon, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di sampingnya terdapat sebuah bangunan limasan beserta bangunan pendukung lainnya.
Halaman rumah itu tertata rapi dengan susunan batuan alam. Dikelilingi pepohonan rindang, bangunan Rumah Karyo Utomo menjadi saksi bisu sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Rumah Karyo Utomo pernah menjadi markas mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, Tahi Bonar (TB) Simatupang saat memerangi penjajah pada 1948. Bangunan tersebut juga tertandai pada peta google dengan keterangan "Bekas Markas Kolonel TB Simatupang".
"Dulu di sini jadi markas TNI selama enam bulan pada 1948," kata Sri Sudarsilah, anak kelima Karyo Utomo, saat ditemui pada Selasa, 31 Maret 2026.
Memang, rumah Karyo Utomo hanya berfungsi sebagai markas TNI selama sekitar enam bulan. Namun, keberadaannya memiliki peran penting pada masa awal kemerdekaan, termasuk dalam upaya mengecoh serangan penjajah.
Bangunan Joglo yang terletak jauh dari keramaian ini menjadi pusat penyusunan strategi dan pertukaran informasi pada masa itu. Para gerilyawan maupun masyarakat pro-kemerdekaan berkumpul di rumah yang berada di Kampung Banaran tersebut.
Sudarsilah mengatakan ayahnya juga pernah menjabat sebagai perangkat desa, yaitu dukuh atau kepala dusun. Karyo Utomo berperan sebagai penggerak masyarakat dalam membantu memenuhi berbagai kebutuhan logistik para gerilyawan.
"Jadi masyarakat memberikan hampir apapun kebutuhan, termasuk makanan. Apa adanya, godhong telo (sayuran daun ketela), godhong gandul (sayuran daun pepaya), apapun. Di sini ada dapur umumnya," kata perempuan kelahiran 1959 tersebut.

Sri Sudarsilah. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Sudarsilah masih mengingat kejadian ketika penjajah terkecoh dan salah melakukan pemboman markas TNI. Saat itu, mereka hendak mengebom Kampung Banaran yang menjadi markas TNI, namun pengeboman salah sasaran karena yang dibom ternyata Kampung Banaran di Kabupaten Gunungkidul, bukan di Kabupaten Kulon Progo.
"(Penjajah) tahu ada markas (TNI) di Banaran. Banaran sempat akan dibom, tapi pemboman dilakukan di Banaran Gunungkidul," ujarnya.
Selain itu, Sudarsilah masih mengingat saat dirinya duduk di bangku SMP, ayahnya masih menjadi dukuh. Saat hendak meletakkan posisi itu, Karyo Utomo tak disetujui untuk meninggalkan jabatan dukuh.
Singkat cerita, Karyo Utomo meninggal pada 2002, sementara istrinya, Katimah, wafat pada 2012. Rumah tersebut masih menyimpan sejumlah perabot yang dahulu digunakan TB Simatupang, meskipun sebagian telah dipindahkan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Sleman, Yogyakarta.
Kondisi Terkini
Perkampungan di sekitar Rumah Karyo Utomo, yang kini dikenal sebagai Rumah Sandi, kini ditinggalkan penghuninya. Letaknya yang berada di perbukitan dan jauh dari berbagai akses kebutuhan membuat para penerusnya tidak lagi menempati lokasi tersebut."Dahulu ini perkampungan, sekarang banyak ditinggal jadi kosong," ucap Sudarsilah.

Rumah Karyo Utomo, bangunan saksi sejarah tempat Gerilya TB Simatupang. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Sudarsilah mengatakan bahwa banyak generasi penerus memilih tinggal di luar perkampungan tersebut. Sebagian besar generasi Karyo Utomo telah meninggal, bahkan generasi muda yang kini menjadi anggota TNI memutuskan menetap di luar Jawa. Meski demikian, masih ada masyarakat yang tinggal beberapa ratus meter dari Rumah Karyo Utomo.
"Ini saya kebetulan ke sini," kata perempuan lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tersebut.
Napak Tilas Persandian
Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) menggelar Napak Tilas Persandian di kawasan Kulon Progo pada Selasa, 31 Maret 2026. Sudarsilah sempat ikut berbincang saat para pengurus BSSN berkumpul di Joglo Rumah Persandian tersebut.Salah satu percakapan yang muncul adalah permintaan pihak keluarga agar pemerintah atau BSSN membeli Rumah Karyo Utomo. Keluarga merasa bangunan tersebut lebih baik dimiliki dan dikelola negara, sehingga perawatannya tidak menjadi beban bagi keluarga.
Saat dikonfirmasi, Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi mengatakan belum bisa memberikan kepastian atas permintaan pihak keluarga. Namun, Nugroho mengatakan bangunan Rumah Sandi bisa juga dibeli pemerintah sebagaimana Museum Sandi yang ada di Kecamatan Samigaluh.
"(Proses pembelian) itu ada proses . Ini (museum Sandi) sudah milik BSSN. Kami harus komunikasi dengan entitas lain. Kami ingin melestarikan itu. Ini jadi bukti situs sejarah bagaimana perjuangan dilakukan," ungkap Nugroho.