Desain proyek kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD) berupa pedestrian berbentuk melingkar atau "cincin donat" di Dukuh Atas, Jakarta. Foto: ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
MRT Jakarta Targetkan Groundbreaking 'Cincin Donat' Pertengahan 2026
Fachri Audhia Hafiez • 27 January 2026 19:28
Jakarta: PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan dimulainya pembangunan kawasan berorientasi transit (transit oriented development/TOD) berupa jalur pedestrian melingkar atau yang populer disebut "cincin donat" di kawasan Dukuh Atas. Proyek prestisius ini dirancang untuk mengintegrasikan konektivitas pejalan kaki di pusat jantung Ibu Kota.
"Saya targetkan paling lambat di pertengahan tahun 2026 bisa groundbreaking," ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, dalam Forum Jurnalis MRT di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 27 Januari 2026.
Baca Juga :
MKMK Berkomitmen Jaga Independensi MK
Tuhiyat menjelaskan, proyek ini berfungsi menghubungkan empat kuadran utama di kawasan Dukuh Atas yang selama ini terpisah, yakni sisi Gedung BNI, Gedung Landmark Centre, Jalan Kendal–Blora, hingga Jalan Tanjung Karang. Jalur pedestrian melingkar tersebut akan memiliki diameter sekitar 118 meter dengan lebar mencapai 12 meter.
Nantinya, fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur pergerakan orang, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup. "Sekitar lima meter dialokasikan untuk area komersial seperti tenant (pop-up store), sementara tujuh meter lainnya digunakan sebagai jalur pergerakan pejalan kaki. Fasilitas ini juga akan dilengkapi eskalator," jelas Tuhiyat.
Saat ini, proyek "cincin donat" masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study) dan pendalaman desain yang telah berjalan sejak November 2025. Tuhiyat menekankan bahwa aspek teknis konstruksi menjadi perhatian utama, terutama terkait penempatan pilar agar tidak mengganggu infrastruktur vital di bawah tanah.
.jpg)
Ilustrasi penumpang MRT. Foto: Metrotvnews.com/Duta.
"Karena kita punya pilar untuk penyangga pedestrian deck. Pilar di situ ada yang tidak boleh dilakukan (sembarangan), karena ada pompa air dan sebagainya," tambah Tuhiyat.
Setelah desain rampung, MRT Jakarta akan masuk ke tahap pembiayaan dengan skema pendanaan yang direncanakan berasal dari kombinas ekuitas dan skema pinjaman.
“Untuk financing-nya itu memang MRT. Setengahnya kurang lebih dari equity. Setengahnya lagi kami berupaya untuk melakukan skema pinjaman," kata Tuhiyat.